Pancasila
Benteng Nasionalisme
Isu
mengenai gerakan Anti-Pancasila semakin membumbui konflik politik dalam negeri.
Tak hanya politik saja, kepribadian bangsa yang menjadi tolak ukur pembentukan
Pancasila pun mulai merosot
secara drastis. Entah ini murni atas
peristiwa pengulangan sejarah atau sudah berkolaborasi dengan kepentingan suatu
golongan atau mungkin kepentingan individu yang bertopeng golongan. Miris
memang bahwa generasi sekarang kurang berapresiasi atas indahnya lekuk-lekuk
sejarah yang telah dilalui oleh para pahlawan kita. Instasi pendidikan kita
sangat antusias melaksanakan pembelajaran sejarah, penanaman nilai-nilai
pancasila, serta gencar membumikan pancasila, akan tetapi nilai dan harapan
yang disandarkan kepada tujuan supaya bangsa kita bisa menjaga, merawat, dan
mengamalkan pancasila tidak terserap secara kaffah oleh peserta didik. Di
sini terlihat bahwa pendidikan karakter sangat krusial posisinya. Sebagaimana Rasulullah
diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak.
Orang yang berkarakter dan
bermoralkan pancasila sudah pasti dan tidak diragukan bahwa ia seimbang antara
kecerdasan akal dan akhlaknya. Sebab dalam sila-sila pancasila tersebut jika
ditalikan kepada ayat Qur’aniyyah maka tampak syahdunya. “Hubbul wathan
minal iman”, maka memelihara dan mengamalkan pancasila juga termasuk wujud
cinta tanah air (nasionalisme). Pancasila yang memiliki instrumen sebegitu
apiknya mau digoncang oleh orang kemarin sore? Jadi ayolah kita sebagai
warga negara indonesia asli mengapa tidak bisa menjaga warisan leluhur. Pancasila
adalah identitas bangsa, pancasila benteng nasinalisme.





0 komentar:
Posting Komentar