Aku mendengar semua pembicaraan yang dilakukan Denand dengan seseorang yang berbicara melalui telvon. Setiap gerak gerik yang ia lakukan kuamati dengan cermat. Sesekali aku merasa empati dengannya. Sepertinya dia sedang berada dalam situasi yang sangat membuatnya tertekan. Setelah ia menerima telvon itu, ia duduk termenung di pinggir kolam dan ku dapati ia menangis. Ya Tuhan dia menangis? Benarkah? Ada apa gerangan? Denand menangis? Apa aku sedang bermimpi? Cukup lama ia meluapkan emosinya itu dengan air mata. Sesekali ia berteriak dengan keras. Sontak itu membuatku terkejut sampai-sampai aku tidak sengaja menjatuhkan pot bunga yang ada di samping persembunyianku. "Oh shit kenapa pake jatuh segala sih?" Gumamku sambil membereskan pot itu. Saat aku kembali mengamati Denand, ternyata dia sudah tidak berada di sana.
Oh Tuhan mungkin selama ini aku sudah berlaku salah terhadap Denand. Ku rasa hatiku memintaku untuk memperbaiki semua kesalahanku terhadap Denand. Hm ternyata aku tidak lebih baik dari burung hantu yang sangat bijaksana itu. Menyesal dan ingin membuka pikiranku kepada orang-orang yang seperti Denand. Tuhan begitu adil terhadap hambanya. "Okey Arin kamu harus minta maaf kepada Denand sekarang." Ucapku sembari berjalan kembali ke kelas. "Rin, Lu malam ini sibuk gak?" Tanya Nui. "Hoi-hoi, eh Rin lu kenapa sih? Muka lu aneh banget setelah balik dari taman sekolah sendiri." Sambung Nui sambil melambai-lambaikan tangannya di depan mukaku. "Jangan-jangan Arin kesambet Nu ew." celetuk Sasa dengan wajah memucat. "Oi maksud kamu apa Sa? aku baik-baik saja kali. aku lagi gak enak badan saja. Jadi sepertinya nanti malam aku mau istirahat saja di rumah." jawabku sambil membereskan buku-buku di meja. "Baiklah kalau begitu, Get Well Soon Arin." sahut Nui.
Sesampainya di rumah aku langsung bergegas mandi dan ganti baju. 30 menit aku bersiap-siap, lalu aku keluar dari kamar dan menuju ke ruang kerja Papa untuk meminta izin.
Tok.. tok..
"Iya masuk." terdengar sahutan suara laki-laki dari dalam ruangan. "Hai Arin, bagaimana sekolahmu hari ini?" "Baik kok Pah." Jawabku singkat. "Pah aku mau izin sama Papa." lanjutku dengan wajah sedikit merayu-rayu. "Hm ini nih, ketemu ayah ketika mau izin saja. Apa Arin tidak ada kangen sama Papah?" Sahut Papah. "Ih Papah Arin juga kangen sama Papah, tapi Arin tahu kalau Papah sibuk jadi Arin tidak banyak menuntut Papah buat tetap ada di rumah." Jawabku dengan wajah sedih. "Hoi jangan sedih gitu anak Papa. Iya-iya Papah mau tahu kamu mau izin kemana?" Ucap Papah menenangkan. "Aku mau pergi ke rumah teman Pah. Bolehkan?" "Baiklah. Tapi jangan pulang terlalu larut. Jam 22:00 WIB must stay at home. Oke?" "Okey Pah." Bergegas aku meninggalkan Papah tanpa lupa meninggalkan kecupan sayang di pipi Papah. "Bye Pah." Papah ku lihat tersenyum manis dari balik pintu yang baru saja ku tutup.
16:45
Ting.. tung..
"Iya cari siapa ya mbak?" Tanya pembatu rumah tangga yang lengkap dengan perlengkapan yang ada di tubuhnya. "Hm anu mbak, saya cari Denand. Ada mbak?" Sahutku. "Oh den Denand, iya tunggu sebentar. Silahkan masuk neng. Teman sekolah ya neng?" Tanya mbaknya Denand dengan senyuman yang tersimpul di wajahnya. "Hehe iya mbak." Sekitar 5 menit aku menunggu sosok Denand itu keluar dari persembunyiannya. "Siapa lu? Ada perlu apa dengan aku?" Ucapan selamat datang dari Denand. "Hai aku Arin, aku teman sekolahmu." jawabku dengan menenangkan emosiku. "Iya aku tahu. Kenapa kamu di sini? Kan kita tidak ada kerja kelompok. Kamu mau nyuri barang-barang di rumahku." Tenang Arin tenang. "Hehe iya, kita tidak ada kerja kelompok kok. Aku cuma mau minta maaf. Maaf karena aku sudah salah menilai kamu. Maaf aku dan teman-temanku sering ngomongin kamu di belakang kamu. Aku tahu ini salah, aku tidak berhak menjudge orang yang belum aku kenal dan aku ketahui latar belakangnya. Aku sadar dan mau memperbaiki kesalahan yang ku perbuat kepada kamu." "Oh." Tetap menjengkelkan jawaban dari Denand ini. "Baiklah aku sudah menyampaikan permintaan maafku, jadi sebaiknya aku pulang karena aku sudah tidak ada kepentingan lain." Ketika aku baru bangun dari tempat dudukku. Dia menahanku dengan ucapanku, "Tunggu dulu. Sepertinya kamu perlu tahu yang satu ini." "Huh? Kenapa? Apa yang perlu aku ketahui?" Jawabku dengan sedikit gugup karena tidak biasanya dia mau mencertikan sesuatu yang privacy. "Aku mengoleksi kuteks dari aku berusia 9 tahun. Itu bermula ketika ibuku yang seorang model professional meninggal di kamar tidurnya dengan mengenaskan. Aku tidak pernah ingat persis apa yang ingin ibu sampaikan kepadaku kala itu. Yang aku tahu adalah ia menyerahkan sebotol kuteks yang ia genggam dengan darah yang menempel di kaca itu. Aku yang masih kecil dan belum mengerti kerasnya dunia permodelan hanya bertanya dan terus bertanya apa yang kurang dari ibuku? Dia cantik dan sangat pekerja keras. Setahuku dia tidak pernah merasa keberatan jika ada pendatang baru yang meminta bantuan kepada ibuku. Aku benar-benar terpukul. Jadi sejak saat itu aku tidak menyukai dunia permodelan dan kilatan cahaya dari kamera yang digunakan. Dan aku mengoleksi setiap kuteks yang keluar di pasaran adalah untuk menghadirkan sosok ibuku di dalam kamarku. Sesekali aku menjumpainya ketika aku terbangun dari tidur ia mengenakan kuteks yang kuletakkan di setiap sudut kamarku. Dan itu mengobati kerinduanku padanya. Meski pertemuan itu tanpa sepatah kata yang terucap, aku cukup bahagia karena aku merasa bahwa ibuku masih berada di sisiku dengan bantuan kuteks-kuteks yang ku koleksi itu. Aku tahu pikiran orang terhadapku, tapi aku tidak perduli. Aku yang merasakan dan menjalaninya sedangkan mereka hanya melihat apa yang tampak."
Senin pagi setelah upacar sekolah. Ucapan Denand itu terus terngiang-ngiang di kepalaku. Aku makin bertambah merasa bersalah. Ini adalah pelajaran yang sangat berarti bagiku. Terkadang Tuhan membuat hambanya mengerti dan memahami sesama dengan cara yang tidak diduga-duga. Denand sosokmu sudah memukul wajahku dan jiwaku tanpa menggunakan tanganmu yang putih bersih bak susu itu. Hanya dengan ucapanmu kamu berhasil membuka pikiran dan cara pandangku. Mulai detik ini aku akan melihatmu dengan cara yang berbeda. Tidak sebagai bule serong tapi sebagai pacarku. Ya pacar Arin seorang.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6




0 komentar:
Posting Komentar