Minggu, 09 September 2018

Menyemai Harapan di Tanah Orang

Senja mengatakan hal yang romantis ketika Aku hendak mengakhiri rutinitasku di kampus. Mengutuk kerinduan yang seolah enggan lari dari hati dan pikiranku. Ku susuri jalanan setapak yang memperpendek jarak kampus dengan rumah ke-tigaku. Sore kala itu, kerlingan mentari mulai meredup. Mengucapkan perpisahan dengan manis. Ah sial romantis sekali senja di tanah rantau kali ini. Membuatku tidak ingin cepat-cepat sampai kost. Ribuan burung menari dengan formasi yang saling beriringan layaknya pasukan kuda perang. Masyaallah, maha kuasa Allah atas segala sesuatu.
Memulai langkah baru di setiap harinya. Ternyata rantau tidak sekelabu warna kesedihan itu. Aku masih bisa mencampur warna yang lain meskipun kelabu masih terlihat. Tapi itulah yang membuatnya indah. Menjadi harmoni dalam setiap spektrum warna yang tersebar dalam kanvas hidupku.
Menapakinya adalah perjuangan tanpa batas. Berhasil melaluinya adalah keberkahan yang Allah berikan kepadaku. Seraya berbisik lembut dalam heningnya malam "Hai, hambaku lihatlah kamu berhasil melaluinya kan? Tetaplah yakin kepada ketetapanKu. Aku ingin membuatmu menjadi sosok yang tegar.. sosok yang ingin kamu buktikan kepada ibumu. Nak tersenyumlah ibumu bahagia bersamaKu. Teruskanlah perjuanganmu. Dan berdo'alah kepadaKu."
Sungguh aku memang tidak suka akan rasa pahit. Tapi pahitnya mengenai perjuangan adalah pengecualian.  Ia membuatku tumbuh menjadi pribadi yang tangguh. Menyoal harapan di tanah rantau.. akan aku perjuangkan hingga tiba waktuku untuk berhenti.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

0 komentar:

Posting Komentar

 

Roudlotul Maghfiroh Template by Ipietoon Cute Blog Design