Jumat, 07 September 2018

Menjadi Manusia Seutuhnya

Hingar bingar kehidupan manusia kaum milenial tidak dapat dihindari keberadaan. Segalanya yang dahulu membutuhkan waktu dan tenaga untuk memperoleh hasil, sekarang dirubah dengan semakin canggihnya alat canggih. Dimulai dengan urusan dapur hingga urusan masa depan. Sangat memberikan keuntungan sekali bukan kalau dipikir-pikir lagi. Namun mengapa banyak kejadian bunuh diri yang dilakukan manusia zaman milenial ini? Apa yang salah dengan kenyamanan yang ditawarkan oleh kemudahan zaman sekarang?
Pagi kala itu di tengah taman bunga krisan kuning, dua orang lansia tengah asik bersantai menikmati keindahan sambil meminum kopi susu yang hangat. Duduk bersantai di pekarangan rumah yang asri memang alternatif untuk menghindari kesibukan yang dibuat masyarakat masa kini.

"Indah ya? Cerah warna kelopak bunga ini secerah senyummu sewaktu masih muda" Pak Ari memulai percakapan dengan nada menggoda genit kepada istrinya. "Apa sih Pa, ingat usia Pa kalau mau bertingkah genit" jawab bu Lia istri pak Ari. "Hahaha, iya buk. Aku hanya heran mengapa orang muda zaman sekarang kok sulit sekali menikmati hidup mereka, padahal mereka sudah sangat dimudahkan dengan kepintaran teknologi" pak Ari mengutarakan kegelisahannya. "Yah setiap orang memiliki ukuran kebahagiaan yang menurut mereka berbeda satu sama lain. Ada yang sudah bahagia bisa makan nasi di tegalan sawah, ada yang baru bisa bahagia kalau makannya di McD. Sebenarnya manusia sendirilah yang mengkotak-kotakkan kebahagiaan mereka sendiri. Padahal kalau mereka bisa bersyukur tentunya ketika mereka bisa menggerakkan kelopak mata mereka bukankah itu bisa membuat mereka bahagia" bu Ari menanggapi dengan meneguk kopinya yang masih hangat. "Hm benar juga ya buk. Aku dulu tidak bisa bahagia kalau tidak menikahi ibuk. Apa itu juga termasuk pengotakkan kebahagiaanku?" Tanya pak Ari sembari meraih pundak ibu dari 6 orang anaknya itu. "Tentu" singkat, padat, dan jelas jawab bu Lia. “Perhatikan burungPipit yang ada di sekitar bunga itu Pa” Ucap bu Lia sembari menunjuk burung Pipit yang terbang merendah di sekitar bunga krisan. “Kenapa memangnya buk?”, “Pernah tidak bapak melihat burung Pipit itu menangis? Burung Pipit itu mencoba bunuh diri karena rumah-rumah mereka banyak berubah menjadi bangunan yang menjulang tinggi dan udara yang penuh polusi, cadangan makanan mereka yang semakin menipis?” tanya bu Lia. “Ah ibuk ini ada-ada saja. Bagaimana bisa Papa tahu kalau burung Pipit menangis wong mereka terbang terus. Memangnya kenapa toh buk kok tanya burung Pipit nangis apa enggak?” tanya balik pak Ari kepada istrinya itu. “Bagaimana sih Papa ini, katanya Profesor di bidang Biologi, masa tidak pernah lihat burung Pipit menangis. Ya sudahlah, jawabannya Pa karena mereka selalu bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan kepadanya. Dia tidak pernah berhenti terbang kecuali malam hari. Mencari makan sana sini. Dan tentunya Dia tidak pernah menggunjing sesamanya. Papa pernah lihat burung Pipit nggosip tidak? Tentunya tidak kan?” jawab bu Lia dengan melempar senyum ke pak Ari. “Hehe apa sih ibuk ini. Mantaplah jawaban istriku ini. Tidak salah Aku menikahi mantan Guru PIAUD ini. Selain cantik dan imut istriku sangat bijaksana menyikapi hidup ini” sahut pak Ari dengan nada menggoda lagi. “Sudah-sudah ayo diminum kopinya nanti keburu dingin”. Pak Ari dan bu Lia melanjutkan minum kopi mereka dan menikmati kumpulan bungan krisan di pekarangan mereka.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

0 komentar:

Posting Komentar

 

Roudlotul Maghfiroh Template by Ipietoon Cute Blog Design