Hingar bingar kehidupan manusia kaum milenial tidak
dapat dihindari keberadaan. Segalanya yang dahulu membutuhkan waktu dan tenaga
untuk memperoleh hasil, sekarang dirubah dengan semakin canggihnya alat
canggih. Dimulai dengan urusan dapur hingga urusan masa depan. Sangat
memberikan keuntungan sekali bukan kalau dipikir-pikir lagi. Namun mengapa
banyak kejadian bunuh diri yang dilakukan manusia zaman milenial ini? Apa yang
salah dengan kenyamanan yang ditawarkan oleh kemudahan zaman sekarang?
Pagi kala itu di tengah taman
bunga krisan kuning, dua orang lansia tengah asik bersantai menikmati keindahan
sambil meminum kopi susu yang hangat. Duduk bersantai di pekarangan rumah yang
asri memang alternatif untuk menghindari kesibukan yang dibuat masyarakat masa kini.
"Indah ya? Cerah warna
kelopak bunga ini secerah senyummu sewaktu masih muda" Pak Ari memulai
percakapan dengan nada menggoda genit kepada istrinya. "Apa sih Pa, ingat
usia Pa kalau mau bertingkah genit" jawab bu Lia istri pak Ari. "Hahaha,
iya buk. Aku hanya heran mengapa orang muda zaman sekarang kok sulit sekali
menikmati hidup mereka, padahal mereka sudah sangat dimudahkan dengan
kepintaran teknologi" pak Ari mengutarakan kegelisahannya. "Yah
setiap orang memiliki ukuran kebahagiaan yang menurut mereka berbeda satu sama
lain. Ada yang sudah bahagia bisa makan nasi di tegalan sawah,
ada yang baru bisa bahagia kalau makannya di McD. Sebenarnya manusia sendirilah
yang mengkotak-kotakkan kebahagiaan mereka sendiri. Padahal kalau mereka bisa
bersyukur tentunya ketika mereka bisa menggerakkan kelopak mata mereka bukankah
itu bisa membuat mereka bahagia" bu Ari menanggapi dengan meneguk kopinya
yang masih hangat. "Hm benar juga ya buk. Aku dulu tidak bisa bahagia
kalau tidak menikahi ibuk. Apa itu juga termasuk pengotakkan
kebahagiaanku?" Tanya pak Ari sembari meraih pundak ibu dari 6 orang
anaknya itu. "Tentu" singkat, padat, dan jelas jawab bu Lia. “Perhatikan
burungPipit yang ada di sekitar bunga itu Pa” Ucap bu Lia sembari menunjuk
burung Pipit yang terbang merendah di sekitar bunga krisan. “Kenapa memangnya
buk?”, “Pernah tidak bapak melihat burung Pipit itu menangis? Burung Pipit itu
mencoba bunuh diri karena rumah-rumah mereka banyak berubah menjadi bangunan
yang menjulang tinggi dan udara yang penuh polusi, cadangan makanan mereka yang
semakin menipis?” tanya bu Lia. “Ah ibuk ini ada-ada saja. Bagaimana bisa Papa
tahu kalau burung Pipit menangis wong mereka terbang terus. Memangnya kenapa
toh buk kok tanya burung Pipit nangis apa enggak?” tanya balik
pak Ari kepada istrinya itu. “Bagaimana sih Papa ini, katanya Profesor di
bidang Biologi, masa tidak pernah lihat burung Pipit menangis. Ya
sudahlah, jawabannya Pa karena mereka selalu bersyukur atas apa yang diberikan
Tuhan kepadanya. Dia tidak pernah berhenti terbang kecuali malam hari. Mencari makan
sana sini. Dan tentunya Dia tidak pernah menggunjing sesamanya. Papa pernah
lihat burung Pipit nggosip tidak? Tentunya tidak kan?” jawab bu Lia
dengan melempar senyum ke pak Ari. “Hehe apa sih ibuk ini. Mantaplah jawaban
istriku ini. Tidak salah Aku menikahi mantan Guru PIAUD ini. Selain cantik dan
imut istriku sangat bijaksana menyikapi hidup ini” sahut pak Ari dengan nada
menggoda lagi. “Sudah-sudah ayo diminum kopinya nanti keburu dingin”. Pak Ari
dan bu Lia melanjutkan minum kopi mereka dan menikmati kumpulan bungan krisan
di pekarangan mereka.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6




0 komentar:
Posting Komentar