Denand adalah laki-laki yang baru saja pindah ke sekolah kami, di SMK Pelita Harapan Semarang. Ia keturunan Belanda-Jerman. Rambutnya pirang, kulit putih, dan bola matanya yang biru muda. Tinggi semampai kalau ada orang yang pertama kali melihat dia pasti akan mengatakan bahwa dia adalah seorang model fashion, sayangnya dia tidak tertarik dengan kilatan cahaya kamera jadi model bukan hal yang menyita minat dan perhatiaannya. Tapi hal lain yang paling menarik perhatian dari Denand warna-warni kuteks yang selalu memiliki warna cerah dan berkilau seperti berlian. Maka dari itu ia suka mengoleksi kuteks di kamarnya. Eww, mungkin sebagian orang berfikir bahwa Denand orangnya serong dalam tanda kutip. Dan juga mengapa harus kuteks yang menjadi pusat perhatiannya? Apakah dia mempunyai perusahaan yang bergerak di bidang pedicure dan manicure? Hahaha itulah yang selalu menjadi gosip utama kita di pagi hari sebelum kelas pertama dimulai. Ya kami berempat. Niana, sahabatku sejak aku masih ingusan; Sasa aku baru mengenalnya ketika aku meminjam catatan pelajaran Matematika; Nui laki-laki yang selalu on the right time when need him.
Pagi itu ketika aku dan teman-teman tengah asik membicarakan hobinya nyelenehnya Denand..
"Sa, masa lu gak mau sih jadi ceweknya Denand? Kan lumayan ntar kuku lu cantik terus. Ngirit biaya ke salon juga." Celetuk Niana yang super receh deh kalau lagi ngomong. "Gila aja lu. Gue emang suka bule tapi gue juga mau yang normal juga kale." Jawab Sasa dengan mulut penuh dengan jajanan yang dia bawa dari rumah. "Ampun dah, masih pagi juga udah nabung dosa. Udah dek emak-emak nganggur gausah ngurusin hidup orang." Nui mencoba menyadarkan Sasa dan Niana.
Brruuaakkk..
Prryangg..
<suara kotak kaca pecah>
"Aww kepala gue.. Kalau jalan lihat-lihat dong." Ucapku dengan nada jengkel. Saat aku melihat ke atas. Oh my god Denand yang biasa jadi trending topik di gengs gue. Denand hanya diam dan menatapku dengan tatapan dingin. Kemudian dia berlalu dengan menginjak botol kaca kuteks warna kuning yang sudah hancur. Ya Tuhan dia sombong sekali. "Hai Ariiiiin, sejak kapan lu pake kuteks di dahi lu? Mau bikin trend baru ya? Apa kukumu pada kena jamur makanya ganti ke dahimu yang masih mulus itu? Hahahaha" Ucapan selamat datang dari Sasa dan Niana yang suaranya mengalahkan toa masjid di komplek. "Apaan sih kalian. Gue tadi gak sengaja tabrakan dengan noh si bule serong tuh." jawabku dengan muka cemberut. "OMG, biar gue tebak terhitung dari sekarang 60 menit ke depan lu bakalan terus kebayang-bayang dia dan akan berhalu tentang dia. Dan akhirnya kalian jadi.." "Sst Nia lu gak ada PR gitu yang mau lu kerjain sekarang daripada lu ngurusin bule itu."
Hari demi hari berlalu. Sejak kejadian itu aku tidak merasakan hal yang berkesan drama seperti yang diucapkan oleh Niana. Tapi ada hal yang ingin aku ketahui dari Denand. Kenapa tatapannya sedingin itu dan kalau dia suka sama kuteks kenapa yang pecah itu malah diinjek bukannya diambil. Sewaktu aku duduk sendiri di bangku taman smaping kolam ikan yang ada di sekolah tiba-tiba aku mendengar Denand menerima telvon dan berdebat dengan seseorang yang sedang berbicara dengannya di telvon itu dengan bahasa belanda asli. Buru-buru aku mencari tempat untuk bersembunyi. Dengan samar aku mendengarkan pembicaraan Denand. Yang sedari ia menerima telvon Denand menampakkan emosi yang meluap-luap dan sesekali menghentakkan kakinya ke tanah.
*bersambung...
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Pagi itu ketika aku dan teman-teman tengah asik membicarakan hobinya nyelenehnya Denand..
"Sa, masa lu gak mau sih jadi ceweknya Denand? Kan lumayan ntar kuku lu cantik terus. Ngirit biaya ke salon juga." Celetuk Niana yang super receh deh kalau lagi ngomong. "Gila aja lu. Gue emang suka bule tapi gue juga mau yang normal juga kale." Jawab Sasa dengan mulut penuh dengan jajanan yang dia bawa dari rumah. "Ampun dah, masih pagi juga udah nabung dosa. Udah dek emak-emak nganggur gausah ngurusin hidup orang." Nui mencoba menyadarkan Sasa dan Niana.
Brruuaakkk..
Prryangg..
<suara kotak kaca pecah>
"Aww kepala gue.. Kalau jalan lihat-lihat dong." Ucapku dengan nada jengkel. Saat aku melihat ke atas. Oh my god Denand yang biasa jadi trending topik di gengs gue. Denand hanya diam dan menatapku dengan tatapan dingin. Kemudian dia berlalu dengan menginjak botol kaca kuteks warna kuning yang sudah hancur. Ya Tuhan dia sombong sekali. "Hai Ariiiiin, sejak kapan lu pake kuteks di dahi lu? Mau bikin trend baru ya? Apa kukumu pada kena jamur makanya ganti ke dahimu yang masih mulus itu? Hahahaha" Ucapan selamat datang dari Sasa dan Niana yang suaranya mengalahkan toa masjid di komplek. "Apaan sih kalian. Gue tadi gak sengaja tabrakan dengan noh si bule serong tuh." jawabku dengan muka cemberut. "OMG, biar gue tebak terhitung dari sekarang 60 menit ke depan lu bakalan terus kebayang-bayang dia dan akan berhalu tentang dia. Dan akhirnya kalian jadi.." "Sst Nia lu gak ada PR gitu yang mau lu kerjain sekarang daripada lu ngurusin bule itu."
Hari demi hari berlalu. Sejak kejadian itu aku tidak merasakan hal yang berkesan drama seperti yang diucapkan oleh Niana. Tapi ada hal yang ingin aku ketahui dari Denand. Kenapa tatapannya sedingin itu dan kalau dia suka sama kuteks kenapa yang pecah itu malah diinjek bukannya diambil. Sewaktu aku duduk sendiri di bangku taman smaping kolam ikan yang ada di sekolah tiba-tiba aku mendengar Denand menerima telvon dan berdebat dengan seseorang yang sedang berbicara dengannya di telvon itu dengan bahasa belanda asli. Buru-buru aku mencari tempat untuk bersembunyi. Dengan samar aku mendengarkan pembicaraan Denand. Yang sedari ia menerima telvon Denand menampakkan emosi yang meluap-luap dan sesekali menghentakkan kakinya ke tanah.
*bersambung...
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6




0 komentar:
Posting Komentar