Malam, suatu waktu yang sangat Aku suka. Hanya dengan sunyi dan
dinginnya hembusan angin malam Aku merasa damai. Menjemput lirih mimpi yang tak
kuasa aku rangkai secara pasti. Berjalan di lorong waktu sendiri. Mungkinkah
karena Aku kala itu terlahir di tengah senyapnya malam dan damainya hidup? Di
tambah siluet lampu kota yang ramai menghilangkan rasa takutku akan malam. Menyelami indah gelap yang "gelap". Mengabaikan kemunafikan yang juga mempunyai konotasi "gelap" dalam hati. Ah Aku merasa hidup dalam kejujuran yang hakiki. Menapaki sunyi menuju setiap pikir kepada Rabb-ku. Kekasih sejatiku namun apakah Dia menganggapku kekasihnya?
Malam, satu waktu yang hilang dari gemuruh adu domba manusia perongrong kebersatuan umat. Ah ingin sekali Aku hidup di malam hari bersama Cintaku. Melenyapkan mimik, raut, dan muka munafik. Malam memang menutup penglihatan dhahir. Tapi malam pula lah yang membuka mata batiniah. Sesekali malam mengurai kenanganku bersama yang ku cinta. Bersama ia yang kini sudah berada di dimensi lain. Malam yang selalu menyimpulkan peristiwa yang terberai. Menjadi klise yang elok. Klise? Elok? Apa itu? Hahaha. Aku bukan orang yang puitis. Aku hanya ingin orang lain tahu bahwa Aku bersyukur pada malam yang telah mempertemukan Aku dan Kamu dalam setiap kolom chat yang kita kirim setiap malam sampai tertidur. Kamu yang selalu menjadi alasanku untuk tetap terjaga di setiap malam. Lagi-lagi malam.
Memang malamlah yang membuatku jatuh cinta kepadamu, malamlah yang menyatukan hatiku dan hatiku pada saat aku mencoba meruntuhkan dinding es yang ada di hatimu. Bolehkah Aku merayumu lagi dengan perantara Rabbku? Menyebut namamu dengan ikhlas dan sangat lirih. Hingga tiada yang mampu mendengarnya kecuali Aku, Rabbku, dan Para MalaikatNya. Aku begitu berharap sapaanku kala itu sampai kepada hatimu dan mampu mencairkan bongkahan dinding es yang menyelimutinya. Aku berharap sekali. Namun lagi-lagi benar harapan yang disandarkan kepada makhluk akan berakhir dengan ke-fana-an yang abadi.
Malam jugalah yang akhirnya mematahkan hatiku akan dirimu. Bukan malam yang mematahkan. Tidak benar. Yang benar Akulah yang mematahkan hatiku sendiri karena Aku tidak ingin terjebak dalam hubungan yang tidak mendapat ridlaNya. Dulu Aku menangis di hadapanNya hanya karena ingin menjagamu. Sebodoh itukah Aku? Cinta yang bertepuk sebelah tangan namun tetap berjuang dengan malam. Hanya untuk mendapatkan sesuatu yang berada di atas rembulan?
Sekuat tenaga Aku melupakanmu, melenyapkanmu, menyingkirkanmu dari jalan hidupku. Tapi lagi-lagi malam mempermainkanku dengan mengahdirkan sosokmu lagi di mimpiku. Kucoba kuyakinkan diriku lagi bahwa Aku bukanlah orang yang akan kau pilih sebagai bidadarimu. Bolehkah Aku menyebutmu di sepertiga malam terakhir lagi? Tapi Aku malu dan marah kepada diriku. Aku malu kepada Rabbku. Aku malu kepada orang tuaku. Aku pengecut karena tidak tahu siapa yang Aku cintai. Aku pengecut karena terus bersembunyi di balik kenangan yang sudah lama berlalu.
Foto terakhir kali bertemu dalam acara muwadda'ah ponpesnya
Tidak perlu mengungkit hal yang masih tabu, retaknya tak sebanding dengan apa yang sudah pasti. Kutitip ia padamu duhai bidadari surganya.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6





0 komentar:
Posting Komentar