1/10 Detik
M. Aurizan Syahril sebuah nama yang dari dulu memang tidak asing. Pernah saling tatap namun tak saling kenal. Definisi introvet akut dari XII IPA 2 untuk XII IPA 4. Anehnya entah mengapa saat ini mulutku terbiasa merapalkan nama itu. Terbiasa merapalkannya setelah kusebut nama Almarhumah Ibuku.~
***
14 Agustus 2016
Aku tidak pernah menyangka dan menduga akan melangkahkan kaki di bumi Semarang Hebat sebelumnya. Ujian-ujian sekolah yang membuatku depresi hampir mengelabukan impian masa kecilku. "Drama" (gumam hatiku) hahaha setidaknya waktu kecil aku pernah menyuarakan impianku sebelum aku tahu bahwa kenyataan jauh lebih manis. Semanis buah Pare yang dibuat acar.
Matahari yang sedikit malu muncul dibalik awan menemani langkahku dan Ayah. Oh iya aku menginjakkan kaki di bumi Semarang untuk pertama kali bersama Ayahku. Hm malaikatku :). Langkahku sedikit kupercepat karena sebelum ada acara yang wajib dihadiri maba salah satu Universitas di Semarang ini aku harus mencari teman se-Alumni dan Sekelasku dulu. Langkahku terhenti di depan fotokopi-an depan Kampus 3 Universitas yang akan menjadi tempatku belajar 4 tahun kedepan.
"Janjian ketemu Lutfi dimana?", (tanya Ayahku) "Belum tahu Yah." (Sahutku singkat dengan sedikit panik sembari terus menatap layar ponselku). Tut..Tut.. Tut "Halo.." (Suara laki-laki yang sedikit ngebass dan berat). "Lutfii kamu dimana?" (Tanyaku dengan sedikit berteriak, maklum Mrs. Panikers). Lutfi Yulianto, Mantan... eits bukan mantaku hahaha, dia adalah mantan ketua Osis. Kita Se-Alumni dan Se-Kelas dari kelas XI sampai XII. Jadi dia bukan Stranger buatku. Dan beruntungnya aku ketika aku tahu dia juga di Uiversitas yang sama dengan aku."Arah jam 10 vi" (Jawabnya) Spontan tanpa menutup telvonku aku melihat ke arah yang diucapkan Lutfi. Dan tentu saja aku melihat perwujudannya berjalan bersama dia ya~ dia Aurizan (Ijun) yang sebetulnya dia kuliah di Solo. Ya itulah pertama kali aku mulai dekat dan akrab dengannya. Kami melangkah bersama menuju tempat acara yang harus aku hadiri dengan Lutfi, kecuali Ijun dia memilih menunggu di Masjid yang berada tidak jauh dari tempat kami berkumpul.
Hah usai sudah acaranya, lumayan melelahkan. Ketika aku mau kembali ke Kost kakak kelas Alumni-ku tiba-tiba seniorku dari Alumni yang sama juga menawarkan bantuan untuk mengatar kami, iya Aku dan Ayah. Ayah bukan tipe orang yang suka menolak kebaikan. Jadilah kami pulang diantar Seniorku itu. Ayahku bersama senior dan Aku bersama.. hm Ijun. Berboncengan dengan orang yang belum kukenal juga pernah sebelumnya tapi ini membuatku mengatakan "Lain.. Dia berbeda dari yang lain" ~pikiran dan hatiku secara kebetulan kompak dan sepakat~. Tahap demi tahap yang harus dilalui camaba sudah kami lalui. Sampai saatnya jadwalku untuk pulang ke Jombang. Kami bertiga kembali naik bus arah Solo dari seberang Kampus 1. Eits "bertiga" di sini bukan dengan Lutfi. Iya benar, "bertiga" dengan Ijun. Aku, Ayah, dan Ijun. Hal itu terjadi karena semalam sebelum aku pulang Lutfi mengirim pesan kepadaku bahwa dia ingin aku mau menemani atau bisa dibilang mengajak serta Ijun pulang bersama. Aku tak keberatan sama sekali. Setelah itu Ijun mengirim pesan juga kepadaku untuk pertama kalinya. Sejak saat itu kami sering mengirim pesan layaknya teman.
***
Hari-hari di Semarang kujalani dengan ya~ very flat. Sampai aku mendengar kabar dari Lutfi kalau dia mengundurkan diri tidak melanjutkan kuliah lagi dan pergi ke Bogor. Bagai disambar KRL di Pelabuhan Tanjung Perak. Hah hiperbola banget, sebenarnya bukan masalah yang besar karena yang ada di Semarang dari Alumni yang se-Angkatan ada 3 orang. Tapi faktanya aku memang sering galau kalau harus melepas balon yang ku punya. Aku sedikit kecewa dengan Lutfi tapi masa depannya siapa yang tahu. Mungkin dia juga berat untuk pergi tapi ya~ itu keputusan yang sudah Ia ambil.
Liburan Semester Genap yang ditungu-tunggu sudah tiba. Ujian juga sudah kulalui dengan perut menahan lapar dan dahaga. Secara liburan kali ini pas bulan Puasa. Sebelum ujian Mata Kuliahku yang terakhir aku mengirim pesan kepada Ijun menanyakan kapan Ia akan pulang ke Jombang. Berharap ada teman barengan pulang. Chat demi chat kami kirimkan yang intinya akhirnya kami bersepakat untuk pulang bareng. Yossh akhirnya ada teman pulang.
Tring... Tring.. (14:30) [Kak uda berangkat?]
Tring... Tring.. (17:00) [Kak jadi pulang gak sih?]
Tring... Tring.. (17:02) [Jangan-jangan aku ditinggal.]
Tring... Tring.. (17:02) [Kak bales.]
Tring... Tring.. (17:12) [Kak]
Tring... Tring.. (17:26] [Kak]
Tring... Tring.. (17:30) [Kak]
(17:30) Aku sampai di Terminal Tirtonadi Solo, buru-buru aku mencari penjual pulsa di Terminal secara paket dataku hari itu mengalami jaringan eror alhasil aku tidak bisa menghubungi Ijun sama sekali. Setelah aku beli pulsa Aku mengirim pesan ke Ijun dan syukur Alhamdulillah dia belum pulang. Setelah dia menyuruhku untuk menungguku beberapa saat, Ijun datang dengan barang bawaanya dan perawakan yang sedikit kurus. Spontan Aku nyletuk "Kok kurusan sih? Manisan kalau kamu tembem tau." (Tanyaku dengan sedikit meledek). "Hahaha Masa sih? Hei aku nggak tembem yo." (Jawabnya dengan gayanya yang santai). "Cari buka dulu yuk sebelum pulang." (Ajaknya sembari melihat jam tangannya). Dengan sedikit khawatir aku menjawab "Ah Aku nggak ah, Aku masih kenyang" (Jawabku berusaha menghindar ajakannya). Ya~ jawaban yang buruk siapa yang bisa percaya coba. Akhirnya aku kalah debat dan memutuskan mencari makan untuk buka puasa. Selama makan aku tidak tenang karena dia terus mengatakan "Kak, ayo cepet bus nya ini yang terakhir lho." (Ucapnya sambil mondar mandir melihat bus yang ada di koridor jurusan). Dalam hati aku bergumam kenapa dia mengajak makan coba kalau akhirnya disuruh cepet-cepet, tahu sendiri aku kalau makan lama. Selesai bayar kami segera menuju koridor bus dan naik bus arah Surabaya. Dan apa yang Aku takutkan terjadi. Uangku terlihat tidak cukup untuk bayar karcis bus. Aku hampir turun dan putus asa. Tapi Ijun tetap memintaku untuk tenang dan tetap berada di bus. Dengan pkiran yang was-was dan cemas tidak bisa pulang Aku tetap duduk di bus sesuai permintaan Ijun. Setiap detik aku meluapkan kecemasanku kepada Ijun dengan merengek minta turun dari bus saja tapi lagi-lagi Ijun memintaku untuk tenang. Akhirnya Dia meminta dompetku dan membantuku menghitung uang yang tersisa dengan setiap receh yang secara acak aku selipkan di saku air minum tas punggungku. Ya Allah ini pertama kali dompetku dibuka sama teman cowok. Dengan tenang Ijun menghitung tiap lembar dan tiap koin uang yang aku punya. At least Alhamdulillah uangnya pas dan cukup untuk bayar karcis. Dengan sedikit malu dan lelah Aku melihat Ijun sesekali ke Kondektur bus membayarkan karcis untukku. Setelah mendapat karcis aku merasa lega begitupun dia. Spontan saja AKu menyandarkan kepalaku di bahu Ijun dan memejamkan mata. Gara-gara kejadian itu aku merasa mengantuk dan ingin cepat tidur. Oh tidak kalau aku ingat-ingat lagi itu The first time aku menyandarkan kepala di bahu cowok. Dan anehnya Ijun tidak merasa risih dan malah ikut menyandarkan kepalanya di atas kepalaku. Hm. Sampai di Jombang aku berpisah dengan Dia karena beda jalan yang dilalui untuk pulang.
***
Itulah saat terakhir kali aku bertemu dengan Ijun. Niatku liburan semester kemarin Aku ingin mengajak Ijun pulang bareng lagi. Tapi karena jadwal ujian yang berbeda kali ini niat itu tidak bisa terlaksana. Ya~ aku legowo sih dan mencoba berdamai dengan meyakinkan kalau tahun depan mungkin bisa BARENG LAGI. Sampai akhirnya...
10 Agustus 2018
Pukul 06:30 Handphone-ku bergetar, terlalu awal untukku melihat pesan WhatsApp untuk mahasiswa yang terburu-buru berangkat magang. Sampai di kantor pun Aku masih belum tertarik membuka notifikasi chat group yang ada di wa. Pukul 07:30 Aku buka group yang dari pagi itu lagi rame-ramenya chat. Dan hal yang luar biasa terjadi. Aku pikir Aku menyesal sekaligus bahagia mengapa saat itu Aku membaca chat di group itu. Isinya benar-benar meruntuhkan langit rasanya. Aku terdiam dan Handphone ku letakkan di meja. Siswa PKL yang berada satu ruang denganku sampai bertanya, "Mbak ada apa?" (tanyanya) "Hah, iya dek.. temanku meninggal dek" (Jawabku dengan tatapan kosong). Dengan mata yang berkaca-kaca dan masih tidak percaya aku mencari kontak Lutfi dan bertanya padanya berharap itu adalah salah pesan yang disebar. "Lut Ijun beneran? Nggak kan? Bohong kan iku?" (Tanyaku dengan hati dan pikiran yang seperti awan kolumbus keadaanya). "Beneran Vi." Sial jawaban Lutfi menghancurkan dinding harapku dan memecahkan air mataku membuat awan kolumbus melepaskan petir-petirnya dalam pikiran dan hatiku.
(11:30) Aku menelfon Ayah dan mengabarkan berita itu dan meminta izin untuk pulang. Akhirnya aku mendapatkan izin untuk pulang. Bergegas Aku pulang dari kantor dan mengambil barang di kost dan menunggu bus di tempat biasa aku menunggu. Singkat cerita sesampainya di rumah aku minta Kakak perempuanku menemaniku ta'ziyah ke rumahnya. Setelah bertanya sana sini sampailah di sebuah rumah yang kira-kira cocok dengan petunjuk yang diberikan Lutfi.
"Assalamu'aalikum.." (Ucapku dengan sedikit lirih). Nampak sosok laki-laki sepuh sekitar 60 tahun-an. "Wa'alaikumsalam." (Jawabnya dengan raut muka berduka dan terlihat mata sembabnya). "Leres niki griyane Aurizan?" "Nggeh." Singkat namun tampak wajahnya semakin sedih setelah mendengar nama itu dan menangis. Ya Allah apakah Aku salah mengambil keputusan? Mengapa aku ke rumahnya? Ya Allah aku tak kuasa menahan air mataku. Setiap cerita yang disampaikan dengan diseingi isak tangis semakin meluluh lantakkan pikiran dan hatiku. Baru kali ini aku merasa kehilangan yang teramat dalam untuk ukuran seorang teman.
***
Hei kamu benar-benar berhasil dalam hidupmu. Kamu lahir ke dunia ini dengan keadaan semua orang yang ada di sekelilingmu tertawa bahagia sedang kamu sendiri menangis dan kamu meninggalkan dunia ini dengan keadaan kamu tersenyum bahagia dan semua orang yang menyayangimu menangis. Kamu berhasil kawan, benar-benar berhasil.
Di jalan Ngaliyan itu, 6/60 detik kau merebut ruang di pikiranku.
Setiap chat yang kau kirim sejak itu, 6/60 detik kau mengacaukan pikiranku.
Kamu berhasil merebut ruang di hati dan pikiranku hanya dengan waktu 6/60 detik.
Meninggalkan kenangan yang menguras emosi.
Aku tidak percaya kamu mampu meruntuhkan dinding yang kubangun untuk orang baru sepertimu.
Tapi dengan kepribadianmu kamu merobohkannya layaknya kau merobohkan istana pasir yang dibuat anak PAUD.
Aku tak pernah tahu kapan aku bisa bertemu dan memiliki teman yang seperti dirimu lagi.
6/60 detik Aku merasa mati dikala harus melangkah di terminal Tirtonadi bersama kenanganmu.
6/60 detik semoga... semoga.. dan semoga kita bertiga bisa berkumpul lagi di rumah kita kelak.
6/60 detik terima kasih untuk senyuman dan tangisan yang kau buat.
~
Semarang, 19 Agustus 2018