Senin, 24 September 2018

Jingga

Kamu indah.
Kala mentari menyorotmu kau nampak anggun.
Menari dalam tiap spektrum warna.
Mengakhiri segala gundah dengan rekah.
Bukan hanya untuk sebuah alunanan tapi sebagai penuntun.

Mengapa kau meragu akan setiap langkah?
Jika jingga saja yakin untuk meneduhkan harimu.
Semburat warna yang eksotis sebelum gulita menjadi pasangan gelap.
Mengaku bahwa ia satu-satunya momen yang mewakili keromantisan.
Menempa hamparan laut.

Senja dan jingga.
Kembar siam yang saling melagukan syahdu.
Tak pernah mengharap temu untuk selamanya.
Hanya sekitar kurang dari 240 menit.
Dalam kurun beriringan, saling menguatkan sebelum akhirnya gelap mengakhiri romansa.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

PHO (Perusak Hubungan Orang)

Zaman sekarang memadu cinta sudah terjadi di berbagai kalangan. Semakin bebas dan semakin fulgar. Bahkan tidak banyak anak remaja sekarang terlibat cinta yang belum waktunya. Salah satunya Sindy, ia adalah seorang siswi kelas 11 di salah satu SMP swasta. Ia memiliki paras cantik bak model professional. Namun sayang perilakunya yang suka merebut kekasih temannya membuatnya memiliki banyak musuh. Terlalu belia untuk memiliki permasalahan semacam ini.
Suatu ketika saat Sindy sedang duduk di depan kelas sambil membalas chat dari seorang cowok yang sedang dekat dengannya, tiba-tiba datang perempuan setahun lebih tua darinya dengan wajah penuh amarah. Tanpa banyak bicara perempuan itu menarik Sindy, membanting HP Sindy, dan menampar wajahnya dengan sangat keras. Kepalanya terbentur tembok yang ada di sampingya. Benturan itu membuatnya pingsan. Ternyata perempuan itu adalah korban dari perbuatan Sindy yang suka merebut pacar temannya.
Setelah kejadian itu Sindy sekarang harus kehilangan ingatannya dan menjalani perawatan selama setahun kedepan. Sebuah pengalaman yang sangat merugikan berbagai pihak. Mengekspresikan kasih sayang adalah hal yang wajar namun ketika kamu melakukannya pada tempat dan waktu yang salah yang hanyalah sebuah permasalahan yang tiada berkunjung.

#tantanganodop2
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi

Tamparanmu membunuhku mama

Sindy baru masuk kelas 11 SMP. Biasanya ia selalu main di kamar mamanya ketika sedang libur dari semua rutinitasnya. Untuk usianya seharusnya Sindy bermain keluar bersama dengan teman-temannya. Entah menonton film di bioskop, belanja di mall, atau membeli novel di bookstore. Namun keluarga Sindy tidak menigizinkannya keluar menikmati masa remajanya. Karena ia anak semata wayang dan menjadi penerus perusahaan besar, ia dituntut pandai dalam segala bidang pelajaran. Dari pagi sampai malam ia terus diberi bahan pelajaran tanpa henti. 
Hingga suatu ketika guru privatnya mengabarkan bahwa tidak bisa mengisi pembelajaran hari itu, jadi Sindy yang kesepian itu bermain di kamar mamanya seorang diri. Dari mencoba sepatu dan berbagai benda yang ada di kamar mamanya tidak lepas dari jamahan tangannya yang putih itu. Sampai kejadian yang ia takutkan terjadi. Tanpa sengaja Sindy membuat KTP mamanya tertelan kloset kamar mandi. Ia sangat gelisah dan ketakutan. Ketika mamanya pulang kerja, Sindy mengatakan bahwa ia telah menghilangkan KTP mamanya. Mamanya sangat marah dan menampar Sindy dengan keras hingga ia jatuh tersungkur di lantai. Suasana menjadi mencekam. Semua orang membisu. Sindy tak henti-henti menangis.
Sejak kejadian itu Sindy menjadi sangat pendiam dan tidak mau berbicara dengan mamanya. Kamar mamanya yang dulu menjadi tempat bermainnya kini menjadi tempat terlarang untuk dikunjungi baginya. Ia tidak akan melupakan sakitnya tamparan mamanya itu sampai kapanpun.

#tantanganodop2
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi

Temu

Kamu datang dalam hati, lagi.
Temu yang semu itu menghancurkan diri.
Ingin ku yakinkan bahwa ini adalah hanya ilusi.
Karena diri tak ingin menjumpai.

Setiap gerik tubuhmu.
membiusku dalam sendu.
menjadikanku ragu.
sudikah hati ini menerimamu.

gemulai dawai menguntai.
meyakinkan luka yang lalu belum terobati.
mengucap selamat tinggal berulang kali.
lalu temu itu berakhir pergi.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Memberi itu bahagiamu yang sederhana

Bunga Meninggalkan Wangi Pada yang Menghancurkan
Lusi adalah gadis desa yang sangat disegani setiap warga. Dirinya selalu dekat dengan semua orang. Memberi setiap orang yang ia temui kenal maupun tidak. Lincah, gesit, dan pekerja keras. Warga desanya memiliki nama panggilan khusus untuknya Oci. Imut dan simple julukannya itu. Seimut wajahnya yang ketika senyum terdapat lesung pipitnya.
Suatu hari terdapat gadis muda lainnya yang melakukan hal tak terduga kepada nasi bungkus yang rencanaya akan Oci bagikan kepada setiap orang yang ia temui. Reni, anak petani di desanya yang selalu menaruh iri dengan kecantikan dan kekaguman warga yang hanya padanya. Reni mencampur bubuk sakit perut ke nasi bungkusnya. Saat orang yang menerima nasi bungkus dari Oci memakannya langsung mengeluh sakit perut. Akhirnya Oci mendapat cemoohan dan dihujat oleh semua warga. Hanya karena satu kesalahan yang tidak ia perbuat Oci langsung dilupakan dan dihapus dari ingatan warga.
Sungguh pilu akhir kisah hidup Oci. Ia harus menanggung dosa dari perbuatan yang tidak ia lakukan. Ia memilih pergi dan melupakan setiap luka yang terjadi di desanya. Memang benar jika fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Hidup tapi seperti mayat. Mengerikan! Kini ia memulai hidupnya di desa lain dengan sebatang kara. Ia menerima dan mengikhlaskan apa yang sudah menimpanya.

#tantanganodop2
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi


Melingkarkan rantai kepada lebah yang memberinya madu
Di pinggir sungai Bengawan Rio duduk santai dengan menikmati sebuah cemilan yang ia beli dalam perjalanan. Sungai yang sudah tidak sebesar dan selebar saat 12 tahun yang lalu saat ia duduk di tempat yang sama bersama almarhum ayahnya, membuatnya merasa prihatin. Namun sungai ini adalah tempat yang sama dan tetap menjadi tempat terfavorit untuk menikmati senja. 
Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara orang tua renta yang meminta makan. Sontak Rio bangkit dari perenungannya dan menghampiri kakek itu dan mengajaknya duduk di sampingnya. Rio menawarkan beberapa roti yang ia punya. Dengan lahap kakek itu memakannya. Namun dengan terburu-buru ia meninggalkan Rio setelah mengucapkan terima kasih kepada Rio. Saat ia kembali ke tempat duduknya ia menjumpai kantong plastik hitam dan alangkah terkejutnya ia mendapati sejumlah emas. Tak berselang lama Rio mendengar teriakan warga yang penuh amarah dan berapi-api. Ketika warga melihat Rio berdiri sambil memegang emas di tangan, sontak warga langsung menarik dan mengarak Rio ke kelurahan.
Rio yang tak tahu menahu berusaha menjelaskan bahwa ia bukan pemilik barang yang ia pegang itu. Namun nahas sekali nasib Rio, siapa yang berbuat siapa yang harus mendekam di sel penjara. Rio hanya bisa meratapi setiap kejadian yang terjadi hari ini. Ia mencoba tenang dan tegar menghadapi dinginnya jeruji besi selama 6 bulan ke depan.

#tantanganodop2
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi

Hidup di kolong langit itu asyik loh!

Hidup di dunia yang penuh sandiwara. Bukan hal yang baru ketika banyak yang berkeluh kesah menanyakan keadilan. Tapi jika kita mampu menghadirkan nilai dari setiap kejadian maka kita bisa menikmati permainan yang ada di kolong langit ini. Terkadang banyak yang lelah menjadi orang baik lantaran terus merasa terkhianati. Pecundang sekali kalau kamu langsung mundur tanpa syarat dari permainan yang ada ini. Kolong langit itu indah dan menakjubkan. Tergantung bagaimana kamu menangkap setiap sinyal yang tampak. Bukan untuk sebuah pencitraan, tapi hanya sebagai hiburan santai dalam dunia yang mulai sakit ini.
Berjalan dalam jalan yang mulai rapuh. Hiduplah sesukamu. Berjalanlah dengan penuh semangat. Penuh sebuah keyakinan, bahwa hidup ini selalu asyik dan tetap ayik. Cintai apa yang mencintaimu. Lupakan apa yang menyakitimu. Peliharalah hati yang tulus. Yakinlah masih ada angin di dunia ini.
Yakinmu soal kebenaran.
bukan urusan senang atau susah.
hati yang membatu ini sanggupkah menyantai kala tegang melanda.
hiduplah saat kau mati.
matilah saat kau memang punya bekal.
Tuhanmu menjagamu dalam pengawsannya.
jangan menyerah dalam satu permainan.
cukup kamu dan tuhanmu yang tahu bahwa permainan yang kau lalui mengasyikkan.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Jamannya menjatuhkan teman

Pemilu adalah pesta demokrasi yang umum dilaksankan di negara yang sistem pemerintahannya republik. Sebuah pemikiran dan konsep yang indah jika demokrasi dipelajari dalam tumpukan buku karya orang berpengaruh dan berintelektual tinggi. Namun lagi-lagi teori adalah sebuah mimpi yang memaksa menina bobokkan kenyataan. Saya begitu miris dan prihatin dengan kondisi mental bangsa ini. Jika dilihat dari usia, negara kita mungkin masih dikatakan masih "remaja" dalam masalah demokrasi. Baru 73 tahun merdeka dan baru beberapa tahun terakhir menerapkan sistem demokrasi tapi sudah muluk sekali perdebatannya menginginkan pemimpin yang super sempurna. Jika ada kesalahan dalam pelaksanaan sistem demokrasi, orang kita menghujat habis-habisan para panitia. Mencari celah kesalahan antar sesama. Tidak mau berjuang bersama. Hanya mau tahu beres dan semua berjalan sesuai harapan bak negeri dongeng. Saya pernah membaca buku motivasi mengenai kekuatan dari pola pikir seseorang yang mampu merubah dunia. Jepang yang terkenal dengan kisah perjuangannya dari pengeboman yang dilakukan di dua kota besar, yakni Hirosima dan Nagasaki. Saya tak henti-henti berdecak kagum  dan selalu ingin bersama membuka pemikiran bangsa kita untuk berkiblat kepada komitmen dan pemikiran mereka tentang artinya berjuang, terpuruk, dan bangkit. Secara riil negara kita memiliki SDM dan SDA yang jauh lebih banyak dari jepang. Tapi kenapa Jepang bisa bangkit begitu cepat dan mampu menjadi pemilik pasar dunia di berbagai bidang. Ternyata mereka tingkat NFRE (Net Forward Energy Ratio) sangat tinggi. Mereka berhenti saling menyalahkan sesama atas apa yang menimpa mereka. Mereka bekerja sama mencari solusi dan segera bangkit dari keterpurukan, memaksimakan apa yang ada di pikiran mereka. Menciptakan sebuah penemuan-penemuan yang terus diakui oleh dunia. Hebat, satu kata yang selalu terbesit di hati saya. Negara mereka kecil, tapi kekuatan mindset bangsa mereka yang sangat besar. Jika saat ini bom sekutu jatuh di jepang lagi, kemungkinan jepang hanya membutuhkan waktu kurang dari 25 tahun untuk bisa bangkit seperti sedia kala.
Kembali ke bangsa kita. Apa kabar dengan mindset yang sehat itu? Sebenarnya banyak sekali orang indonesia yang bagus dan berkualitas mindset mereka tapi lagi-lagi dengan alasan tidak memperoleh tempat yang layak jadi negara lain yang mengetahuinya mengambil kesempatan dengan dalih pemberian beasiswa. Pemilihan pemimpin kali ini adalah ajang utama bagaimana mindset bangsa sebenarnya. Berhentilah saling menyalahkan, ayo kita memikirkan solusi terhadap kemajuan bangsa dan negara. Tanamkan dalam penerus bangsa bhawa proses adalah hal yang krusial dalam pembentukan mindset yang sehat dan produktif.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Kuncup di Padang Mahsyar

Aku melambaikan tangan kotor ini.
mencari setiap nyawa yang haqiqi.
menghidupi jalanan yang sepi.
sendiri.. Mengapa baru terjadi?
penyesalan ini ku bawa mati.

harusnya aku merekah ketika di alam dunia.
mengapa aku masih menjadi kuncup hingga aku kembali?
begitu beratkah bebanku hingga aku lupa cintaNya?
Ia begitu setia menanti diri.
Tapi aku lupa akan luasnya daratan rahmanNya.

Jangankan untuk meminta Syafaat dari kekasih.
Menyebut namanyapun aku tidak pernah.
sekali pernah terucap lirih.
hanya setela akad nikah.
benar-benar dosa diri sebanyak buih.

kini aku hidup kembali menjadi kuncup di mahsyarNya.
bukan rekahan bunga yang menawan dan wangi aromanya.
hanya kuncup yang tidak mensyukuri nikmatnya.
di dunia yang mengelapkan itu, aku terpedaya.
oh jiwa yang masih terjebak, kembalilah dan merekah indah.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

I see My Love in Nails Part 2 (The End)

Aku mendengar semua pembicaraan yang dilakukan Denand dengan seseorang yang berbicara melalui telvon. Setiap gerak gerik yang ia lakukan kuamati dengan cermat. Sesekali aku merasa empati dengannya. Sepertinya dia sedang berada dalam situasi yang sangat membuatnya tertekan. Setelah ia menerima telvon itu, ia duduk termenung di pinggir kolam dan ku dapati ia menangis. Ya Tuhan dia menangis? Benarkah? Ada apa gerangan? Denand menangis? Apa aku sedang bermimpi? Cukup lama ia meluapkan emosinya itu dengan air mata. Sesekali ia berteriak dengan keras. Sontak itu membuatku terkejut sampai-sampai aku tidak sengaja menjatuhkan pot bunga yang ada di samping persembunyianku. "Oh shit kenapa pake jatuh segala sih?" Gumamku sambil membereskan pot itu. Saat aku kembali mengamati Denand, ternyata dia sudah tidak berada di sana. 
Oh Tuhan mungkin selama ini aku sudah berlaku salah terhadap Denand. Ku rasa hatiku memintaku untuk memperbaiki semua kesalahanku terhadap Denand. Hm ternyata aku tidak lebih baik dari burung hantu yang sangat bijaksana itu. Menyesal dan ingin membuka pikiranku kepada orang-orang yang seperti Denand. Tuhan begitu adil terhadap hambanya. "Okey Arin kamu harus minta maaf kepada Denand sekarang." Ucapku sembari berjalan kembali ke kelas. "Rin, Lu malam ini sibuk gak?" Tanya Nui. "Hoi-hoi, eh Rin lu kenapa sih? Muka lu aneh banget setelah balik dari taman sekolah sendiri." Sambung Nui sambil melambai-lambaikan tangannya di depan mukaku. "Jangan-jangan Arin kesambet Nu ew." celetuk Sasa dengan wajah memucat. "Oi maksud kamu apa Sa? aku baik-baik saja kali. aku lagi gak enak badan saja. Jadi sepertinya nanti malam aku mau istirahat saja di rumah." jawabku sambil membereskan buku-buku di meja. "Baiklah kalau begitu, Get Well Soon Arin." sahut Nui.
Sesampainya di rumah aku langsung bergegas mandi dan ganti baju. 30 menit aku bersiap-siap, lalu aku keluar dari kamar dan menuju ke ruang kerja Papa untuk meminta izin. 
Tok.. tok..
"Iya masuk." terdengar sahutan suara laki-laki dari dalam ruangan. "Hai Arin, bagaimana sekolahmu hari ini?" "Baik kok Pah." Jawabku singkat. "Pah aku mau izin sama Papa." lanjutku dengan wajah sedikit merayu-rayu. "Hm ini nih, ketemu ayah ketika mau izin saja. Apa Arin tidak ada kangen sama Papah?" Sahut Papah. "Ih Papah Arin juga kangen sama Papah, tapi Arin tahu kalau Papah sibuk jadi Arin tidak banyak menuntut Papah buat tetap ada di rumah." Jawabku dengan wajah sedih. "Hoi jangan sedih gitu anak Papa. Iya-iya Papah mau tahu kamu mau izin kemana?" Ucap Papah menenangkan. "Aku mau pergi ke rumah teman Pah. Bolehkan?" "Baiklah. Tapi jangan pulang terlalu larut. Jam 22:00 WIB must stay at home. Oke?" "Okey Pah." Bergegas aku meninggalkan Papah tanpa lupa meninggalkan kecupan sayang di pipi Papah. "Bye Pah." Papah ku lihat tersenyum manis dari balik pintu yang baru saja ku tutup.
16:45
Ting.. tung..
"Iya cari siapa ya mbak?" Tanya pembatu rumah tangga yang lengkap dengan perlengkapan yang ada di tubuhnya. "Hm anu mbak, saya cari Denand. Ada mbak?" Sahutku. "Oh den Denand, iya tunggu sebentar. Silahkan masuk neng. Teman sekolah ya neng?" Tanya mbaknya Denand dengan senyuman yang tersimpul di wajahnya. "Hehe iya mbak." Sekitar 5 menit aku menunggu sosok Denand itu keluar dari persembunyiannya. "Siapa lu? Ada perlu apa dengan aku?" Ucapan selamat datang dari Denand. "Hai aku Arin, aku teman sekolahmu." jawabku dengan menenangkan emosiku. "Iya aku tahu. Kenapa kamu di sini? Kan kita tidak ada kerja kelompok. Kamu mau nyuri barang-barang di rumahku." Tenang Arin tenang. "Hehe iya, kita tidak ada kerja kelompok kok. Aku cuma mau minta maaf. Maaf karena aku sudah salah menilai kamu. Maaf aku dan teman-temanku sering ngomongin kamu di belakang kamu. Aku tahu ini salah, aku tidak berhak menjudge orang yang belum aku kenal dan aku ketahui latar belakangnya. Aku sadar dan mau memperbaiki kesalahan yang ku perbuat kepada kamu." "Oh." Tetap menjengkelkan jawaban dari Denand ini. "Baiklah aku sudah menyampaikan permintaan maafku, jadi sebaiknya aku pulang karena aku sudah tidak ada kepentingan lain." Ketika aku baru bangun dari tempat dudukku. Dia menahanku dengan ucapanku, "Tunggu dulu. Sepertinya kamu perlu tahu yang satu ini." "Huh? Kenapa? Apa yang perlu aku ketahui?" Jawabku dengan sedikit gugup karena tidak biasanya dia mau mencertikan sesuatu yang privacy. "Aku mengoleksi kuteks dari aku berusia 9 tahun. Itu bermula ketika ibuku yang seorang model professional meninggal di kamar tidurnya dengan mengenaskan. Aku tidak pernah ingat persis apa yang ingin ibu sampaikan kepadaku kala itu. Yang aku tahu adalah ia menyerahkan sebotol kuteks yang ia genggam dengan darah yang menempel di kaca itu. Aku yang masih kecil dan belum mengerti kerasnya dunia permodelan hanya bertanya dan terus bertanya apa yang kurang dari ibuku? Dia cantik dan sangat pekerja keras. Setahuku dia tidak pernah merasa keberatan jika ada pendatang baru yang meminta bantuan kepada ibuku. Aku benar-benar terpukul. Jadi sejak saat itu aku tidak menyukai dunia permodelan dan kilatan cahaya dari kamera yang digunakan. Dan aku mengoleksi setiap kuteks yang keluar di pasaran adalah untuk menghadirkan sosok ibuku di dalam kamarku. Sesekali aku menjumpainya ketika aku terbangun dari tidur ia mengenakan kuteks yang kuletakkan di setiap sudut kamarku. Dan itu mengobati kerinduanku padanya. Meski pertemuan itu tanpa sepatah kata yang terucap, aku cukup bahagia karena aku merasa bahwa ibuku masih berada di sisiku dengan bantuan kuteks-kuteks yang ku koleksi itu. Aku tahu pikiran orang terhadapku, tapi aku tidak perduli. Aku yang merasakan dan menjalaninya sedangkan mereka hanya melihat apa yang tampak."
Senin pagi setelah upacar sekolah. Ucapan Denand itu terus terngiang-ngiang di kepalaku. Aku makin bertambah merasa bersalah. Ini adalah pelajaran yang sangat berarti bagiku. Terkadang Tuhan membuat hambanya mengerti dan memahami sesama dengan cara yang tidak diduga-duga. Denand sosokmu sudah memukul wajahku dan jiwaku tanpa menggunakan tanganmu yang putih bersih bak susu itu. Hanya dengan ucapanmu kamu berhasil  membuka pikiran dan cara pandangku. Mulai detik ini aku akan melihatmu dengan cara yang berbeda. Tidak sebagai bule serong tapi sebagai pacarku. Ya pacar Arin seorang.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6  

Minggu, 23 September 2018

I see My Love in nails

Denand adalah laki-laki yang baru saja pindah ke sekolah kami, di SMK Pelita Harapan Semarang. Ia keturunan Belanda-Jerman. Rambutnya pirang, kulit putih, dan bola matanya yang biru muda. Tinggi semampai kalau ada orang yang pertama kali melihat dia pasti akan mengatakan bahwa dia adalah seorang model fashion, sayangnya dia tidak tertarik dengan kilatan cahaya kamera jadi model bukan hal yang menyita minat dan perhatiaannya. Tapi hal lain yang paling menarik perhatian dari Denand warna-warni kuteks yang selalu memiliki warna cerah dan berkilau seperti berlian. Maka dari itu ia suka mengoleksi kuteks di kamarnya. Eww, mungkin sebagian orang berfikir bahwa Denand orangnya serong dalam tanda kutip. Dan juga mengapa harus kuteks yang menjadi pusat perhatiannya? Apakah dia mempunyai perusahaan yang bergerak di bidang pedicure dan manicure? Hahaha itulah yang selalu menjadi gosip utama kita di pagi hari sebelum kelas pertama dimulai. Ya kami berempat. Niana, sahabatku sejak aku masih ingusan; Sasa aku baru mengenalnya ketika aku meminjam catatan pelajaran Matematika; Nui laki-laki yang selalu on the right time when need him.
Pagi itu ketika aku dan teman-teman tengah asik membicarakan hobinya nyelenehnya Denand..
"Sa, masa lu gak mau sih jadi ceweknya Denand? Kan lumayan ntar kuku lu cantik terus. Ngirit biaya ke salon juga." Celetuk Niana yang super receh deh kalau lagi ngomong. "Gila aja lu. Gue emang suka bule tapi gue juga mau yang normal juga kale." Jawab Sasa dengan mulut penuh dengan jajanan yang dia bawa dari rumah. "Ampun dah, masih pagi juga udah nabung dosa. Udah dek emak-emak nganggur gausah ngurusin hidup orang." Nui mencoba menyadarkan Sasa dan Niana.
Brruuaakkk..
Prryangg..
<suara kotak kaca pecah>
"Aww kepala gue.. Kalau jalan lihat-lihat dong." Ucapku dengan nada jengkel. Saat aku melihat ke atas. Oh my god Denand yang biasa jadi trending topik di gengs gue. Denand hanya diam dan menatapku dengan tatapan dingin. Kemudian dia berlalu dengan menginjak botol kaca kuteks warna kuning yang sudah hancur. Ya Tuhan dia sombong sekali. "Hai Ariiiiin, sejak kapan lu pake kuteks di dahi lu? Mau bikin trend baru ya? Apa kukumu pada kena jamur makanya ganti ke dahimu yang masih mulus itu? Hahahaha" Ucapan selamat datang dari Sasa dan Niana yang suaranya mengalahkan toa masjid di komplek. "Apaan sih kalian. Gue tadi gak sengaja tabrakan dengan noh si bule serong tuh." jawabku dengan muka cemberut. "OMG, biar gue tebak terhitung dari sekarang 60 menit ke depan lu bakalan terus kebayang-bayang dia dan akan berhalu tentang dia. Dan akhirnya kalian jadi.." "Sst Nia lu gak ada PR gitu yang mau lu kerjain sekarang daripada lu ngurusin bule itu."
Hari demi hari berlalu. Sejak kejadian itu aku tidak merasakan hal yang berkesan drama seperti yang diucapkan oleh Niana. Tapi ada hal yang ingin aku ketahui dari Denand. Kenapa tatapannya sedingin itu dan kalau dia suka sama kuteks kenapa yang pecah itu malah diinjek bukannya diambil. Sewaktu aku duduk sendiri di bangku taman smaping kolam ikan yang ada di sekolah tiba-tiba aku mendengar Denand menerima telvon dan berdebat dengan seseorang yang sedang berbicara dengannya di telvon itu dengan bahasa belanda asli. Buru-buru aku mencari tempat untuk bersembunyi. Dengan samar aku mendengarkan pembicaraan Denand. Yang sedari ia menerima telvon Denand menampakkan emosi yang meluap-luap dan sesekali menghentakkan kakinya ke tanah.

*bersambung...

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Rabu, 19 September 2018

Menulis untuk cinta atau cinta untuk menulis?

sumber foto: https://www.qureta.com/post/pena-dan-kertas


Menulis adalah kegiatan yang sangat bermanfaat bagi kesehatan otak dan emosional penulisnya. Banyak sekali benefit yang diperoleh. Menulis apa saja yang biasa mereka tulis. Menulis pesan untuk yang mereka sayangi misalnya. Setiap kata yang terpampang di layar chat menjadikan maksud hati itu bisa dipahami dengan awam. Tapi tidak semua kata yang disampaikan ditulis dengan kata yang memiliki satu makna. Terkadang terdapat makna tersembunyi yang harus ditafsirkan oleh psangan yang lain sehingga perlu memainkan otak dan perasaan mereka dalam memahami setiap kata yang terpampang. Menulis juga mampu menstabilkan emosi penulis karena setiap kata yang keluar bisa jadi itu semua merupakan refleksi dari semua keluh kesah dan harapan mereka. Menulis sebenarnya sebuah aktifitas kita mengobrol dengan diri sendiri. Ketika sebuah kata tidak pernah mengkhianati kita itu adalah cinta hakiki dimana cinta tidak hadir sebagai luka. Menulis untuk sebuah pembenaran, pengabaran rindu, keadaan, kekecewaan, dan penyebaran ilmu yang kita miliki. Berarti kamu sedang menulis untuk cinta. Karena cinta adalah pemberian dan memberi untuk siapapun tanpa pamrih. Kamu hanya menulis-menulis dan menulis hanya untuk cinta yang ingin kau lepaskan. Aku pernah mendengar orang alim menyampaikan pesannya kepada muridnya, "Tidak akan padam sebuah lilin yang menyalakan lilin yang lain, berapapun banyaknya". Menulislah untuk kebermanfaatan, jangan untuk sebuah kehancuran dan perpecahan. Karena apa yang kamu tanam kelak akan kamu tuai. Namun tidak banyak orang tahu bahwa diri mereka spesial dengan tulisan yang mereka goreskan dalam buku mereka. Mereka memeras habis pikiran dan perasaan mereka untuk sebuah keabadian yang tidak mereka sadari. Ada orang yang berilmu dan beradab berkata, "Aku ingin tetap hidup dalam pikiran semua orang dari semua generasi". Ini menjadi bukti bahwa menulis dapat memperpanjang usia dan kenanganmu bersama semua orang yang kamu cintai. Jika kamu menuliskan sebuah ilmu, setiap orang yang membaca dan mengamalkan apa yang kamu tulis tersebut maka akan menjadi pahala yang akan terus mengalir kepadamu jika kamu telah meninggal. Karena salah satu amalan yang tidak akan pernah terputus apabila seorang muslim itu meninggal adalah ilmu yang bermanfaat. Meskipun kamu tidak bisa menulis seperti penulis yang hebat, memiliki banyak buku yang best seller, buku-bukunya terpampang di rak utama toko-toko buku ternama; teruslah menulis. Menulislah untuk readers setiamu, yaitu kamu dan semua yang setia mendukungmu mereka adalah keluarga dan sahabatmu. Tak mengapa tak menjadi best seller asalakan menjadi best achievment menurut keluarga dan sahabatmu. Mulailah segala sesuatu dari hal yang kecil dan sederhana. Buatlah rak utamamu sendiri. Jangan risau dan jangan miskin percaya diri hanya karena kamu kurang pengalaman. Kamu tidak akan pernah berjalan seperti saat ini jika kamu setelah jatuh pertamamu lantas kamu menangis dan menjadikannya trauma. Do your best. Buat perpustakaanmu sendiri. Cinta untuk menulis itu perlu karena dengan menuis kamu tengah berbicara dengan jiwamu.

Ingatlah Allah menjatuhkanmu sekarang untuk mengangkat derajatmu esok.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Cintai proses

sumber foto : http://mulyastaffd3bi.blogspot.com/2016/11/perbedaan-dasar-motor-bebek-motor-matic.html

Sekarang kita semua telah dimanjakan dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan oleh kemajuan dan perkembangan teknologi. Tanpa harus meneteskan keringat manusia bisa menyelesaikan berbagai tugas mereka dengan waktu yang singkat dan cepat. Tujuan dimodifikasinya setiap teknologi adalah untuk membantu dan memudahkan manusia dalam menjalankan aktifitasnya. Dari bangun tidur hingga tidur lagi banyak sekali teknologi yang mengiringi mereka. Salah satu contohnya adalah penggunaan  motor matic dengan motor konvensional. Banyak orang sekarang beralih ke penggunaan motor matic dengan alasan dinilai lebih simple tidak perlu menekan gigi porsneleng untuk bisa menjalankan motornya. Berbeda dengan motor konvensional mereka beranggapan bahwa motor tersebut masih dalam kategori ribet karena harus memasukkan gigi porsneleng untuk menjalankan motor. Tapi dengan segala penawaran yang dikatakan instan mereka melupakan bahwa seinstan-instannya sebuah kemajuan teknologi mereka masih membutuhkan usaha untuk menjalankan semua teknologi tersebut. Di motor matic selalu disediakan alat starter yang konvensional. Jadi kita harus faham bahwa dibalik sebuah kemudahan dan kenyamanan yang ditawarkan kita harus bisa memposisikan diri di berbagai keadaan yang membutuhkan sebuah usaha dan proses untuk mencapainya. Itu harapan semua pembuat dan harapan para stakeholder negeri terhadap bangsa kita. Namun melihat kenyataan yang ada sekarang banyak mindset orang yang beralih hanya mau segala sesuatu yang diinginkannya diperoleh dengan cara yang benar-benar instan dan mau membayar berapapun untuk memperolehnya. Membuat menjadi esensi dari nilai kesabaran menjadi hilang karena termanjakan dengan kecepatan akses teknologi saat ini. Melupakan nikmatnya sebuah proses dan perjuangan untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan. Jadi sebenarnya kitalah yang diminta bijak menyikapi kemajuan teknologi ini. Terbantu dengan kemutaakhiran teknologi sih boleh-boleh saja tapi jangan sampai kehilangan karakter yang terbentuk dari tempaan yang diperoleh dari proses yang dilaluinya.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Senin, 17 September 2018

Menghidupkanmu Kembali dalam Kata

Bunda engkau masih yang terbaik dalam hidupku. Andaikan 2 tahun yang lalu aku bisa menyelesaikan lembar kisahmu dengan apik maka aku tidak perlu hidup dengan rasa rindu dan penyesalan yang bergejolak seperti ini. Engkau yang selalu aku cinta tanpa syarat. Namun aku menjadi seorang munafik. Mengatakan bahwa aku mencintaimu, tapi aku masih belum bisa memberikan kebahagiaan dalam kehidupanmu yang baru ini. Bun, aku sangat merindukanmu dalam setiap nafas yang kuambil dan dalam setiap langkah yang kutapaki di tanah rantau. Aku ingat betul bagaimana raut wajahmu yang dihiasi gelombang keriput nan cantik itu menampakkan ekspresi sedih namun tak berucap ketika harus berpisah denganku. Aku yang tidak pernah mau mendengarkan apa yang engkau sarankan untuk belajar di kampung halaman dengan alasan ingin mencari pengalaman, kini merasakan apa yang tidak akan pernah aku lupakan. Betapa mahalnya biaya yang harus kubayar hanya untuk menjemput sebuah kerinduan yang membunuh. Betapa sedikit dan cepatnya waktu itu berlalu ketika aku berada jauh dari kampung halaman. Bunda di tengah kekalutanku ini aku mencoba mengahdirkan sosokmu dalam syair yang kusimpan dalam booknote pribadiku. Berharap bahwa aku memang sedang berbicara denganmu bunda. Aku ingin bunda memelukku lagi dalam mimpi seperti dahulu, hingga aku bisa melepaskan air mata kebahagiaan bukan air mata kesedihan dan kerinduan yang tak berujung saja. Detik tiap detik kulalui dengan diriku yang semakin berubah. Terkadang aku merasa aku masih seperti diriku yang polos dan lugu namun kadangkala aku menjadi sosok iblis yang terbangun dari peristirahatan karena berbagai luka dan fitnahan yang luar biasa ini. Bunda jika saja ponselmu masih mau berdering dan menjawab telfonku, mungkin 1 hari 24 jam aku akan menjadi alasan ponselmu berdering. Sayangnya ponselmu tidak pernah merespon kita aku melakukan panggilan ke nomor pribadimu. Bunda aku sangat merindukanmu. Aku sangat bersusah payah dan benar-benar berusaha menghidupkanmu dalam kata karena engkaulah yang sangat memahamiku setelah Tuhanku. Engkau mampu menenangkan aku dari berbagai kejadian yang tidak pernah berpihak padaku dengan penuh pengertian hingga aku menyadari bahwa aku memang harus melalui tempaan yang hebat jika mau menjadi pedang perang panglima. Bunda menyesal mungkin yang kurasakan sekarang, namun aku tidak boleh berhenti dan kembali sia-sia. Aku masih membayangkan wajahmu dan ucapanmu yang menginginkanku kembali dengan gelar S.Pd beserta ilmu yang bermanfaat. Bunda teruslah hidup dalam kata-ku hingga aku tak perlu merasa sepi dan sedih. Bunda aku mencintaimu dari permukaan bumi untukmu yang berada di atas langit.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Minggu, 16 September 2018

Terindah

Embun pagi melambai di ujung daun muda. Ku buka mataku perlahan dan ku dapati sosok yang selalu aku impikan. Ku tatap setiap sudut kesempurnaan ciptaan Tuhanku ini. Belum habis bahagiaku menyandang gelar sebagi istrimu. Kebahagiaanku selalu bertambah ketika aku menyaksikan setiap perbuatanmu yang begitu memuliakan aku dan ibumu. Kau bimbing aku ke arah surgaNya, kau terangi jiwaku dengan petuahmu yang begitu bermakna, dan kau manjakan aku dengan semua perhatian dan pengorbananmu. Melimpah ruah kasih sayangmu atas diriku dan keluarga kecil kita ini. Hari demi hari kita lalui bersama dengan perasaan yang tiada henti melafalkan kalimat syukur. Setiap hal kecil nan romantis yang kau lakukan, bagiku masih seperti sebuah mimpi di siang hari. Berulang kali ku cubit pipiku hingga meninggalkan bekas merah, hanya untuk sebuah pembuktian bahwa aku tidak sedang bermimpi. Tiba-tiba kamu datang ke arahku menanyakan kenapa pipiku memiliki bekas lebam merah sembari memegang kedua pipiku dan menatap mataku dengan tajam. Sontak jantungku berdegup kencang. Mungkin aku bertingkah sedikit berlebihan secara kita sudah menjadi pasangan halal yang bisa saling memegang bagian tubuh pasangan dengan bebas. Tapi bagiku itu masih sebuah yang baru dan sangat menguji adrenalin karena kamu yang terindah selama aku men-jomlo menjadi milikku seorang. Dengan refleks aku menghempaskan tanganmu yang tertempel di kedua pipiku dan membuang wajahku. Bukan karena aku marah. Tapi karena aku benar-benar gugup dan paranoid ketika berada dalam situasi yang seperti ini. Ku lihat matamu dengan kepalaku yang sebentar-bentar masih menunduk-nunduk karena masih belum terbiasa menjadi istrimu, seseorang yang begitu sangat dekat denganmu. Kau terlihat tenang dan terkesan sangat memahami posisiku yang masih canggung menjadi istrimu untuk pertama kalinya. Kamu tersenyum dan meluncurkan tangan kananmu ke atas kepalaku. Mengelus kepalaku dengan lembut dan mengatakan, "Tidak apa-apa Krisan-ku yang manis dan paling anggun ini.. aku tahu ini menjadi sebuah hal yang baru dalam hidupmu. Aku akan selalu membimbingmu sebagai tulang rusukku dengan penuh kelembutan. Tidak perlu takut, karena akulah pelindung dan super heromu yang baru setelah ayahmu. Tetaplah berjuang untukku, untuk keluarga kita, dan tentunya untuk anak-anak kita nanti." Masyaallah wanita mana yang tidak melting mendengar ucapan lelakinya seperti itu. Lelaki yang sangat ia idam-idamkan dan hanya mampu memandangnya dari kejauhan dulu sekarang ada di hadapannya dan mengucapkan sesuatu yang meluluhkan hati seperti itu. Setelah ia mengelus kepalaku, dia melayangkan ciuman lembut ke keningku. Lagi-lagi jantungku dibuat berdegup tidak beraturan. Jika saja kau berteriak aku akan berteriak sekencang-kencangnya. Tapi karena serangan mendadak itu semua organ dan otakku tidak terkoneksi secara sempurna. Aku terpaku cukup lama, sedang ia sudah berlalu meninggalkan aku. 
Hari ke-dua aku menjadi istrimu. Canggung itu mulai berkurang namun belum hilang total. Rasa malu-malu itu masih ada ketika kamu melakukan hal yang super sweet. Ku siapkan secangkir kopi susu yang menjadi minuman favoritmu di pagi hari. Belum beranjak aku dari tempat yang kugunakan meletakkan kopimu, lagi-lagi kamu membuat kejutan demi kejutan yang menghentikan aliran impuls neuron dari otak. Kamu datang dari arah belakangku tanpa bersuara dan memelukku dengan lembut dan erat. Berbisik dengan lembut, "Selamat pagi bunga krisanku, lain kali jangan lupa kecupan di kening saat bengun tidur ya?!" Oh iya aku melupakannya. Beliau memintaku ketika bangun tidur untuk mencium keningnya. Katanya untuk latihan mengurangi rasa canggung. Tapi kalau aku yang melakukannya mungkin akan bertambah canggung. Dengan terbata-bata aku menjawab, "Eh iya mas saya lupa tadi pagi.. maafkan saya mas. Apa boleh kalau saya lakukan sekarang untuk menebus kesalahan saya tadi?" beliau menjawab "Oh tentu, itu yang saya tunggu dan harapkan dari kamu, Krisanku." Belum sempat aku mencium kening beliau tiba-tiba terdengar suara yang memanggilku dari jauh, Via.. Aravia.. Aravia binti Syamsul. Astaghfirullah ternyata saya melamun di dalam kelas. Ah betapa malunya saya karena ketahuan melamun di dalam kelas ketika pelajaran tengah berlangsung.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Sabtu, 15 September 2018

Management of Islamic Education

Dokumen Pribadi

Sebuah potoret kebersamaan yang tidak akan pernah bisa terulang lagi. Ya, pada waktu itu kita berkumpul dengan sebuah perasaan yang sama. Rasa bahagia karena bisa berkumpul dengan teman. Aku tidak pernah menyangka bahwa kita bisa menjadi akrab dan menjadi seseorang yang penting satu sama lain. Kita datang dari penjuru kota dan daerah yang berbeda. Dengan latar belakang budaya dan bahasa yang serupa tapi berbeda makna. Tapi kian lama kebersamaan itu kian pudar. Banyak faktor yang membuatnya terjadi. Kesibukan masing-masing. Ada yang aktif di organisasi, ada yang sudah bekerja part time, ada yang sibuk dengan mata kuliah tambahan, ada yang sibuk dengan tugas masing-masing. Begitu berharganya kebersamaan kala itu. Kau tahu akau merindukannya teman. Kini kita melangkah saling memunggungi. Berkumpul hanya untuk menyelesaikan tugas kelompok dan ku pikir itu karena terpaksa. Dahulu kita giat memikirkan satu sama lain. Membuat program kelas untuk kemajuan bersama. Kita dulu terkenal kompak loh, menginspirasi orang lain untuk mengadakan program yang serupa. Kalian rindu tidak sih? Di ujung jurang perjuangan ini sesekali aku melihat ke belakang. Melambai kepada hal-hal hebat yang kita buat dan kita lalui bersama. Could we go back together? Semangat beradu argumen di kelas. Bersaing menyampaikan argumen-argumen berat mengenai Filsafat. Bukankah kita sangat hebat kala itu? Masih semester 1 loh. Tapi kita mampu mencerna materi yang begitu berat dan rumit itu dan mengadu argumen kita sebagai hasil dari telaah yang kita lakukan. Tidakkah kalian merindukannya?
Memasuki semester 2, jarak antara kita sudah terlihat tapi belum jauh. Aku memahami kalau kita mungkin sudah dituntut menjadi dewasa dengan mengatur jadwal tambahan yang kita ambil. Baiklah ini masih semester 2, masih ada semester yang lain yang mungkin bisa kita gunakan untuk berkumpul. But i get a illusion. That is just my opinion not the reality. Hingga aku lupa kapan kita berkumpul terakhir kali di semester 2 ini? Aku merindukan "Our time guys". 
Yang sampai detik ini kita memasuki semester 5 jarak kita semakin jauh dan jauh. Kawan ingatlah dulu kita pernah bersama, bercerita bersama, mengeluhkan tugas bersama, mengeluhkan jam kuliah yang tidak usai-usai. Hal yang sangat seru. Tapi aku hanya bisa berdo'a supaya kita bisa berkumpul lagi seperti sedia kala. 
Salamku untuk Management of Islamic Education 1A.
  
#onedayonepost
#ODOP_6

Jumat, 14 September 2018

Teratai pun bisa tenggelam

Aku mengambang dalam angan. Sebuah khayal tentang masa depan yang masih buram. Menapaki jalan takdir berdua. Terdengar sederhana tapi faktanya aku belum sanggup menapakinya bersamamu. Yang terlihat sekarang aku masih melaluinya sendiri. Hei.. kamu yang masih berjalan sendiri juga, tidakkah kau ingin hadirnya seseorang di jalanmu. Ketika lelah ada yang memberikanmu minum, dan itu tentunya aku. Ketika kamu mengantuk, kita akan mencari tempat istirahat bersama dan tidur berdampingan. Terdengar menyenangkan bukan. Kamu, siapapun kamu aku berimajinasi kita memiliki rumah yang dipenuhi bunga. Kita duduk bersantai di tengah taman. Oh indah sekali ya. Hei kamu yang kelak membaca tulisanku ini ketahuilah "Aku sangat mencintaimu dengan izinNya insyaallah". Kuharap kamu mengerti. Aku wanita, yang setenang-tenangnya aku berdiri di atas godaan pacaran lebih menggoyahkan ketika aku mengetahui satu persatu sahabatku berkumpul dengan kekasihnya dalam ikatan suci. Aku ingin Aku dan Kamu menjadi Kita. Tapi aku lelah memperjuangkanmu. Bukan lelah karenamu tapi lelah karena pernah memperjuangkan ia yang bukan untukku sehingga itu hanya meninggalkan trauma dalam hatiku dan membutakan hatiku akan rasa. Hei kamu memilikimu adalah hal yang selalu aku eluh-eluhkan kepada Tuhanku. Entah kapan aku bisa memilikimu seutuhnya, ya seutuhnya hanya untuk aku saja. Terkesan egois memang. Tapi apakah itu cukup untuk membayar kesepian di masa lalu? Sendiri dan Sepi hal yang ingin aku tepis denganmu. Aku ingin bercerita dan menangis dalam pelukanmu. Mengatakan bahwa menunggu kau datang menjemputku adalah hal yang sangat melelahkan. Aku ingin mendengar kau merayuku dan berterima kasih karena aku mampu menunggumu. Seperti lagu romantis yang sekarang banyak bercerita tentang sebuah penantian. Menulis aksara demi aksara hanya untuk kamu memahami rasa yang tak sanggup aku ungkapkan sekarang. Kamu yang masih 300 meter dariku, aku tak mengenalmu dan kau tahu itu. Ingatlah teratai yang menjadi ratu kecantikan di air pun bisa jatuh karena waktu. Jangan buat aku jatuh dan jatuh ke dasar nestapa karena terlalu lama menunggumu tanpa sebuah kepastian.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Kamu

Kamu yang ternyata masih kutunggu.
Maukah kamu bertanggung jawab atas rasa itu?
Menunggumu bukan permintaanmu.
Aku tahu.

Bisakah aku menjadi mentari di setiap siangmu?
Menjadi bulan di setiap malammu?
Dan menjadi angin yang bisa menyampaikan rindumu.
Rindu kepada kekasihmu.

Bolehkah aku berteriak?
Berkata dengan lantang bahwa aku tak sanggup mengelak?
Dari setiap kenangan kita yang selalu menyiksa.
Laksana embun yang selalu menemani tiap helai daun di pagi buta.

Aku ingin memelukmu dalam syair yang nyata.
Bukan sekedar rekayasa maupun sebuah replika.
Rasaku kian membara.
Untukmu yang tidak pernah melihat ke arah perempuan biasa.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Malam

Malam, suatu waktu yang sangat Aku suka. Hanya dengan sunyi dan dinginnya hembusan angin malam Aku merasa damai. Menjemput lirih mimpi yang tak kuasa aku rangkai secara pasti. Berjalan di lorong waktu sendiri. Mungkinkah karena Aku kala itu terlahir di tengah senyapnya malam dan damainya hidup? Di tambah siluet lampu kota yang ramai menghilangkan rasa takutku akan malam. Menyelami indah gelap yang "gelap". Mengabaikan kemunafikan yang juga mempunyai konotasi "gelap" dalam hati. Ah Aku merasa hidup dalam kejujuran yang hakiki. Menapaki sunyi menuju setiap pikir kepada Rabb-ku. Kekasih sejatiku namun apakah Dia menganggapku kekasihnya? 
Malam, satu waktu yang hilang dari gemuruh adu domba manusia perongrong kebersatuan umat. Ah ingin sekali Aku hidup di malam hari bersama Cintaku. Melenyapkan mimik, raut, dan muka munafik. Malam memang menutup penglihatan dhahir. Tapi malam pula lah yang membuka mata batiniah. Sesekali malam mengurai kenanganku bersama yang ku cinta. Bersama ia yang kini sudah berada di dimensi lain. Malam yang selalu menyimpulkan peristiwa yang terberai. Menjadi klise yang elok. Klise? Elok? Apa itu? Hahaha. Aku bukan orang yang puitis. Aku hanya ingin orang lain tahu bahwa Aku bersyukur pada malam yang telah mempertemukan Aku dan Kamu dalam setiap kolom chat yang kita kirim setiap malam sampai tertidur. Kamu yang selalu menjadi alasanku untuk tetap terjaga di setiap malam. Lagi-lagi malam. 
Memang malamlah yang membuatku jatuh cinta kepadamu, malamlah yang menyatukan hatiku dan hatiku pada saat aku mencoba meruntuhkan dinding es yang ada di hatimu. Bolehkah Aku merayumu lagi dengan perantara Rabbku? Menyebut namamu dengan ikhlas dan sangat lirih. Hingga tiada yang mampu mendengarnya kecuali Aku, Rabbku, dan Para MalaikatNya. Aku begitu berharap sapaanku kala itu sampai kepada hatimu dan mampu mencairkan bongkahan dinding es yang menyelimutinya. Aku berharap sekali. Namun lagi-lagi benar harapan yang disandarkan kepada makhluk akan berakhir dengan ke-fana-an yang abadi.
Malam jugalah yang akhirnya mematahkan hatiku akan dirimu. Bukan malam yang mematahkan. Tidak benar. Yang benar Akulah yang mematahkan hatiku sendiri karena Aku tidak ingin terjebak dalam hubungan yang tidak mendapat ridlaNya. Dulu Aku menangis di hadapanNya hanya karena ingin menjagamu. Sebodoh itukah Aku? Cinta yang bertepuk sebelah tangan namun tetap berjuang dengan malam. Hanya untuk mendapatkan sesuatu yang berada di atas rembulan?
Sekuat tenaga Aku melupakanmu, melenyapkanmu, menyingkirkanmu dari jalan hidupku. Tapi lagi-lagi malam mempermainkanku dengan mengahdirkan sosokmu lagi di mimpiku. Kucoba kuyakinkan diriku lagi bahwa Aku bukanlah orang yang akan kau pilih sebagai bidadarimu. Bolehkah Aku menyebutmu di sepertiga  malam terakhir lagi? Tapi Aku malu dan marah kepada diriku. Aku malu kepada Rabbku. Aku malu kepada orang tuaku. Aku pengecut karena tidak tahu siapa yang Aku cintai. Aku pengecut karena terus bersembunyi di balik kenangan yang sudah lama berlalu.
Foto terakhir kali bertemu dalam acara muwadda'ah ponpesnya
Tidak perlu mengungkit hal yang masih tabu, retaknya tak sebanding dengan apa yang sudah pasti. Kutitip ia padamu duhai bidadari surganya.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Senin, 10 September 2018

Miss Imperfection?

Katanya menjadi diri sendiri itu lebih baik. Menguak persetan pencitraan. Pencitraan (branding) memang penting. Tapi lihat dulu bagaimana kamu melakukannya? Pencitraan tapi menjatuhkan sesama. Apa itu sehat? Tidak sehat memang tapi banyak yang melegalkan. And that's real, berharapnya sih cuma sebuah wacana. But shit lagi-lagi itu nyata di sekitar Kita. Maju dengan menjatuhkan tidak hanya lawan tapi juga kawan.
Berbangga atas apa yang diperolehnya. Apa dia tidak punya hati? Oh tentunya punya. Kalau tidak punya hati bagaimana ia bisa hidup. Baiklah mari rubah pertanyaannya. Apa dia tidak punya perasaan? Oh tentu dia punya. Lantas? Apa dia tidak bisa merasakan apa yang orang lain rasakan atas tindakannya itu?
Ingin sekali berteriak di depan mukanya dan mengatakan hei pencitraanmu tidak seelegan sponsor botol kecap. Kamu itu manusia apa kedondong sih? Di depan mulus dibaliknya mbruntus.
Kita tahu everyone in this world tidak ada yang sempurna. Jangan menaiki ketidaksempurnaan orang hanya untuk kesejahteraan pribadi. Itu namanya tidak bermartabat lahir batin.
Berdasi tapi menjatuhkan sesama i guess what for you live in this world? Maybe you can live in Mars or Pluto. Kalian pasti fahamlah.
Raihlah kesejahteraan dengan usahamu yang sehat. Bersainglah dengan jantan. Don't be chicken! Alangkag bermartabatnya orang lain jika mau saling memback-up imperfection sesama untuk mencapai kesejahteraan bersama. You can imagin it betapa indahnya kalau kita hidup saling menopang satu sama lain.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Minggu, 09 September 2018

Menyemai Harapan di Tanah Orang

Senja mengatakan hal yang romantis ketika Aku hendak mengakhiri rutinitasku di kampus. Mengutuk kerinduan yang seolah enggan lari dari hati dan pikiranku. Ku susuri jalanan setapak yang memperpendek jarak kampus dengan rumah ke-tigaku. Sore kala itu, kerlingan mentari mulai meredup. Mengucapkan perpisahan dengan manis. Ah sial romantis sekali senja di tanah rantau kali ini. Membuatku tidak ingin cepat-cepat sampai kost. Ribuan burung menari dengan formasi yang saling beriringan layaknya pasukan kuda perang. Masyaallah, maha kuasa Allah atas segala sesuatu.
Memulai langkah baru di setiap harinya. Ternyata rantau tidak sekelabu warna kesedihan itu. Aku masih bisa mencampur warna yang lain meskipun kelabu masih terlihat. Tapi itulah yang membuatnya indah. Menjadi harmoni dalam setiap spektrum warna yang tersebar dalam kanvas hidupku.
Menapakinya adalah perjuangan tanpa batas. Berhasil melaluinya adalah keberkahan yang Allah berikan kepadaku. Seraya berbisik lembut dalam heningnya malam "Hai, hambaku lihatlah kamu berhasil melaluinya kan? Tetaplah yakin kepada ketetapanKu. Aku ingin membuatmu menjadi sosok yang tegar.. sosok yang ingin kamu buktikan kepada ibumu. Nak tersenyumlah ibumu bahagia bersamaKu. Teruskanlah perjuanganmu. Dan berdo'alah kepadaKu."
Sungguh aku memang tidak suka akan rasa pahit. Tapi pahitnya mengenai perjuangan adalah pengecualian.  Ia membuatku tumbuh menjadi pribadi yang tangguh. Menyoal harapan di tanah rantau.. akan aku perjuangkan hingga tiba waktuku untuk berhenti.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Kotak pos dan klasik

Pagiku ditemani kicauan burung gereja nan syahdu.
Membelah alam bawah sadarku.
Namun raga ini enggan untuk bangkit dari perebahan.

Kring.. kring.
Dua kali dentingan bel sepeda tahun 1980-an terdengar nyaring.
Membuatku berlalu dari segala kenyamanan alam mimpi.

Ku berlari kecil, membuka pembatasku dengan dunia luar.
Segar, dingin, dan luar biasa pagi ini.
Ku langkahkan kaki mungilku ke arah kotak pos keluarga.

Membukanya perlahan.
Dan ku dapati surat yang terbungkus amplop mocca berbalut pita kuning emas nan cantik.
Adrenalinku berpacu sangat cepat.
Berlari ku ruang khusus imajinasiku.

Ku cium aroma khas amplop itu.
Perlahan tapi pasti ku buka tiap simpul yang mengikat isi amplop.
Dan kala terbuka isinya membuatku merona disertai degup jantung yang tak beraturan.

Selembar surat bertulislan tinta emas di atas lembaran kerta bernuansa klasik.
Sebuah foto formasi ulat yang unik membentuk gambar hati.
Sederhana namun sangat berharga bagiku.

*musik panggilan*
Tiba-tiba ada panggilan masuk di gawai pribadiku.
Terdengar sayup dan lembut suaranya mengucapkan "Selamat ulang tahun sayang."
Oh hariku begitu sempurna.

Hai kita tetaplah menjadikan catatan klasik sebagai romansa kita.
Terima kasih kotak pos.

#TantanganODOP1
#Onedayonepost
#ODOPBatch6

Mata

Banyak orang mengatakan bahwa mata adalah organ manusia yang paling tidak bisa bohong. Kata siapa? Mata kaki malah tidak bisa dilihat bagi orang yang berbadan subur.
Banyak orang mengatakan ketika mereka jatuh cinta itu disebabkan mereka tidak sengaja saling bertatap mata kemudian menimbulkan gejolak di dalam hati mereka. Kata siapa? Ada yang bisa menatap mata batin orang lain? Logisnya kan kalau untuk urusan hati yang bertanggung jawab ya.. mata hati. Hahaha ada-ada saja.
Banyak orang mengatakan mata itu sesuatu yang paling penting untuk dapat nelihat dunia ini. Tentunya dengan segala keindahannya. Kata siapa? Banyak orang kok punya mata yang terpampang sempurna di wajah mereka tapi memilih membutakan. Sudah menjadi rahasia umum kan kalau soal ini. Lucu memang. Termasuk Aku.
Banyak orang bilang kalau menjadi seorang wanita apalagi yang mendekati proses pernikahan harus pandai menjaga bentuk dan keindahan tubuh. Lagi-lagi yang dipuaskan di sini adalah mata. Baik kali ini cukup untuk kalimat "kata siapanya". Kalau semua keindahan di ukur atas dasar penglihatan mata yang fana ini, lantas bagaimana kita bisa mentafakkuri dan mengenal DIA yang maha indah di atas segala keindahan yang ada di muka bumi dengan kefanaan yang ada?

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Sabtu, 08 September 2018

Lalu

Menjadi lembayung.
Tersudut, terhempas, terombang.
Mengais apa yang sudah tiada.
Ilalang meringis.
Menari atas apa yang telah lalu.
Lalu, laula, lulala.

Langit menyoraki pisah dengan gemuruh petir.
Melagukan kegelisahan, ketakukan, dan kekecawaan.
Menatap wajahmu yang kian buram.
Sementara jiwa enggan melepas sosokmu sayang.
Lupakah engkau alunan denting jam tengah malam?

Aku dan Kamu memunggui rasa dan menggantung kata "lalu".

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Jumat, 07 September 2018

Menjadi Manusia Seutuhnya

Hingar bingar kehidupan manusia kaum milenial tidak dapat dihindari keberadaan. Segalanya yang dahulu membutuhkan waktu dan tenaga untuk memperoleh hasil, sekarang dirubah dengan semakin canggihnya alat canggih. Dimulai dengan urusan dapur hingga urusan masa depan. Sangat memberikan keuntungan sekali bukan kalau dipikir-pikir lagi. Namun mengapa banyak kejadian bunuh diri yang dilakukan manusia zaman milenial ini? Apa yang salah dengan kenyamanan yang ditawarkan oleh kemudahan zaman sekarang?
Pagi kala itu di tengah taman bunga krisan kuning, dua orang lansia tengah asik bersantai menikmati keindahan sambil meminum kopi susu yang hangat. Duduk bersantai di pekarangan rumah yang asri memang alternatif untuk menghindari kesibukan yang dibuat masyarakat masa kini.

"Indah ya? Cerah warna kelopak bunga ini secerah senyummu sewaktu masih muda" Pak Ari memulai percakapan dengan nada menggoda genit kepada istrinya. "Apa sih Pa, ingat usia Pa kalau mau bertingkah genit" jawab bu Lia istri pak Ari. "Hahaha, iya buk. Aku hanya heran mengapa orang muda zaman sekarang kok sulit sekali menikmati hidup mereka, padahal mereka sudah sangat dimudahkan dengan kepintaran teknologi" pak Ari mengutarakan kegelisahannya. "Yah setiap orang memiliki ukuran kebahagiaan yang menurut mereka berbeda satu sama lain. Ada yang sudah bahagia bisa makan nasi di tegalan sawah, ada yang baru bisa bahagia kalau makannya di McD. Sebenarnya manusia sendirilah yang mengkotak-kotakkan kebahagiaan mereka sendiri. Padahal kalau mereka bisa bersyukur tentunya ketika mereka bisa menggerakkan kelopak mata mereka bukankah itu bisa membuat mereka bahagia" bu Ari menanggapi dengan meneguk kopinya yang masih hangat. "Hm benar juga ya buk. Aku dulu tidak bisa bahagia kalau tidak menikahi ibuk. Apa itu juga termasuk pengotakkan kebahagiaanku?" Tanya pak Ari sembari meraih pundak ibu dari 6 orang anaknya itu. "Tentu" singkat, padat, dan jelas jawab bu Lia. “Perhatikan burungPipit yang ada di sekitar bunga itu Pa” Ucap bu Lia sembari menunjuk burung Pipit yang terbang merendah di sekitar bunga krisan. “Kenapa memangnya buk?”, “Pernah tidak bapak melihat burung Pipit itu menangis? Burung Pipit itu mencoba bunuh diri karena rumah-rumah mereka banyak berubah menjadi bangunan yang menjulang tinggi dan udara yang penuh polusi, cadangan makanan mereka yang semakin menipis?” tanya bu Lia. “Ah ibuk ini ada-ada saja. Bagaimana bisa Papa tahu kalau burung Pipit menangis wong mereka terbang terus. Memangnya kenapa toh buk kok tanya burung Pipit nangis apa enggak?” tanya balik pak Ari kepada istrinya itu. “Bagaimana sih Papa ini, katanya Profesor di bidang Biologi, masa tidak pernah lihat burung Pipit menangis. Ya sudahlah, jawabannya Pa karena mereka selalu bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan kepadanya. Dia tidak pernah berhenti terbang kecuali malam hari. Mencari makan sana sini. Dan tentunya Dia tidak pernah menggunjing sesamanya. Papa pernah lihat burung Pipit nggosip tidak? Tentunya tidak kan?” jawab bu Lia dengan melempar senyum ke pak Ari. “Hehe apa sih ibuk ini. Mantaplah jawaban istriku ini. Tidak salah Aku menikahi mantan Guru PIAUD ini. Selain cantik dan imut istriku sangat bijaksana menyikapi hidup ini” sahut pak Ari dengan nada menggoda lagi. “Sudah-sudah ayo diminum kopinya nanti keburu dingin”. Pak Ari dan bu Lia melanjutkan minum kopi mereka dan menikmati kumpulan bungan krisan di pekarangan mereka.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Kamis, 06 September 2018

A^c B (Aku bukan bagian dari Semestamu?)

Ibu pagi ini aku ingin bercerita.
Pagi yang masih buta ini.
Udara masih mengembun.
Menembus rusuk dan meliukkan rasa. Ibu dalam heningku, ratapanku bersahutan ingin kuluapkan seperti sedia kala.
Aku berdiri di tepi.
Engkau pun berdiri di tepi.
Tapi mengapa kesamaan ini membuatku sedih?
Tentu Aku sedih karena tepi yang sama tidak berarti bermakna sama.
Ibu kau bergelimang cahaya di sana.
Sedang Aku, apa Aku bisa menjadi sosok tauladan sepertimu.
Aku malu Ibu. Malu sekali.
Aku malu dahulu Aku bicara panjang lebar yang berakhir dengan luka di hati dan air matamu.
Ibu masih pantaskah aku mendapatkan maafmu?
Hingga detik terakhirmu Aku tak berada di sana, di sisimu.
Ku sulut emosiku.
Ku redam gemuruh rindu yang sekarat.
Berkali-kali Ku coba melebur dalam satu frekuensi denganmu.
Menemui cinta sejati kita Ibu.
Ibu sayangku tak sebanding dengan sayangmu yang melimpah hingga setiap detik memori itu terbangun dalam angan, membunuhku sekejap.
Ibu Aku sekarat tanpa sosokmu.
Namun Ku coba bangkit dengan berbagai garis liuk kehidupanku.
Terima kasih Ibu.
Aku berdo'a semoga nanti kita semua bisa berkumpul kembali.

#Komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Selasa, 04 September 2018

Decision maker


Resah.. kata itu yang selalu muncul dalam pikiranku. Ingin bisa melakukan ini dan itu dalam satu waktu. Ragaku cuma satu tapi ambisiku beribu-ribu. Ingin mencapai ini ingin mencapai itu. Tapi staminaku naik turun. Sometimes i feel very good in everything and sometimes i feel very bad. Bukan menjadi maniak dalam hidup yang mau menang sendiri. Hanya ingin membuktikan dan lebih mau memaksimalkan potensi yang dititipkan sang Khaliq atasku. Dengan mencapai titik batasku. Aku yakin Aku masih bisa melompat lebih jauh lagi dari semua ini. Meski tak jarang Aku harus rela mundur selangkah untuk membuat 10 lompatan yang lebih jauh. Bukannya tidak percaya takdir. Aku sangat mempercayainya. Bahkan aku selalu melafalkan kalimat "Allah merahasiakan masa depanku hanya untuk melihat apakah Aku bisa berhusnudzan kepadaNya dan mau menunggu sembari terus berikhtiar menjemputnya." Dan di dalam Alquran pun dijelaskan dengan tegas dan jelas bahwasannya "Janji Allah itu pasti." dan "Sesungguhnya yang ghoib itu milik Allah, tunggulah, sesungguhnya kami bersama orang-orang yang menunggu." Aku haqqul yaqin atas ayat itu. Teatpi selama berprose tidak jarang Aku melalui jalan yang banyak menguras emosi. Drendahkan, dielecehkan, dikambing hitamkan (padahal mereka tahu aku ini manusia bukan kambing, dan ups sepertinya mereka perlu tau bahwa membawa sesuatu yang tidak ada sangkut pautnya adalah hal yang tidak patut. Btw apa salah kambingnya?), dinilai hanya berdasar omongan, judge without knowing my history. Kecewa ya, rasanya mau mundur dan pulang ke rumah. Tapi tunggu dulu Allah membawamu sejauh ini bukan untuk sebuah kegagalan. Kamu adalah pemimpin atas dirimu. Pembuat keputusan untuk masa depanmu. Terpuruk kembali sebagai pecundang atau terus bertahan dan bangkit walau perlahan dan kembali sebagai pemenang? Itulah "decision maker" pertama yang harus kamu pelajari sebelum kamu menjadi pemimpin dalam scope yang lebih besar. Jika kamu bisa berhasil dalam memimpin dirimu maka kamu bisa dan harus bisa memimpin yang ada di laur kamu nanti. Hidup memang berat, makanya Allah menyediakn waktu khusus di sepertiga malam akhir untuk mendengar semuanya darimu  dan meminta pertolonganNya. Libatkan Allah dalam segala urusanmu semoga Allah selalu memberikan jalan terbaik menurutNya atasmu.
Bunga dandelion terakhir meskipun belum sempat terlepas dari inangnya dan tidak sanggup terbang janganlah menyalahkan keadaan dan mengutuk takdir. Ketahuilah semesta sedang menunggumu di sana dengan sederet rancangan kebahagiaan atas dirimu. berlarilah dan ciptakan kemauan untuk menang dan jemput mimpimu.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Syair dan Hati



Pernahkah kamu mengira bahwa apa yang kamu tulis bisa menumbuhkan emosional mereka? Katamu kamu tidak ingin membuat orang lain menyukaimu. Tapi tulisanmu melakukannya. Setiap Status yang ada di Sosial Mediamu membuat jutaan orang mengira bahwa kamu ingin memikat seseorang. Kamu tahu.. Aku salah satu orang yang mungkin terjebak di dalamnya. Aku mencoba menghapuskannya mencoba merelakan bahwa kamu tidak pernah ada perhatian untuk sekedar menyapa apalagi untuk menyenggol rasa. Kamu terlanjur menangkapku dengan kail berumpankan syair yang Kau tulis dan Aku terlanjur terkait di kailmu. Aku tidak menyangka bahwa hanya dengan kata, kamu mampu meruntuhkan angan dan inginku untuk mengenal sosok yang lain dari dirimu. Kamu tumbuh dalam hidupku sebagai candu dan racun. Menyita semua waktuku, perhatianku, dan ambisiku saat ini. Untaian kata yang kau susun. Siratan makna yang kau himpun dalam setiap baitnya, apik meruntuhkan semua yang sudah menjadi prosedur hidupku. Mengelak pun Aku tidak berdaya. Menerima kenyataan yang telah buat atasku, berat. Mengacau balaukan apapun yang ada dalam hidupku. Aku tahu ini bukan salahmu. Ini semua adalah salahku. Mengapa Aku memiliki hati yang terlalu perasa. Tapi apakah kamu tidak mau membantuku? Sekedar untuk mewujudkannya walau hanya sebentar. Merangkai untaian syair bersama. Bak kisah romansa di peradaban dahulu. Dua insan saling merindu dan melipur lara hanya dengan secarik kertas dan basahnya tinta yang menetes di setiap permukaannya melengkuk meliuk membentuk huruf per huruf,, menjadi kata menyambung, menyatu menjadi wakilan ungkapan dua insan yang merindu dengan sangat parah. Apa Kamu tidak mau melakukannya denganku? Setiap malam Aku menatap langit. Gelap.. semua gelap. Tapi ada satu cahaya yang tampak dibalik pantulan riak danau. Dibalik jendela rumah kayu yang begitu sederhana Aku melihatmu. Melihatmu menikmati malam hanya dengan sebatang lilin yang Kau bawa ke pinggir danau. Mengapa? Apa yang sebenarnya kamu lakukan? Kamu membawa botol kosong dan 5 gulung surat yang disimpul pita berwarna coklat keemasan. Kau lempar botol kosong tadi dengan surat-surat yang sudah Kau masukkan ke dalamnya. Ada apa? Siapa yang ingin Kau kirimi surat itu? Apa ini rutinitasmu? Atau ini yang membuat Kamu menjadi penyair sepi yang hanya mengharapkan sosok yang tidak ada di bumi ini. Mengabaikan yang jelas-jelas ada di sekitarmu. Mungkin mudah untuk tak mengagumi tulisanmu lagi. Tapi melenyapkan emosi yang sudah Kau ciptakan melalui bait-baitmu mungkin membutuhkan seumur hidupku.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Senin, 03 September 2018

Tomodachi?

Teman.. 5 huruf yang berdempetan menghimpun dua insan bahkan lebih dalam sebuah jalin kasih. Ketika bertemu melepas tawa bersama. Makan bersama bahkan melakukan hal di luar nalar bersama. Berteriak untuk hal yang fantastis. Indah ya?!
Teman.. selalu mendapat ruang untuk dirindu jumpanya. Mengatakan "Ciye jomblo masih hidup". Terkesan kasar memang bagi mereka yang berada di luar lingkaran kata "Teman". Tapi itulah hal yang paling seru. Tidak ada yang tersakiti oleh kata. Tertawa lepas penuh dengan segala nada khasnya. Tidak munafik yang menyelubung. Indah ya?!
Teman? Barangkali kata itu tak sedikit orang berusaha menolak eksistensinya. "Cih sombong sekali" kalimat wajib yang setiap saat didengarnya. "Kamu hidup segalanya bisa sendiri? Belagu". Stay calm walau sebenarnya jantung sudah berpacu tak menentu mata sudah berkaca-kaca. "Jangan jatuh.. jangan jatuh" ucap dalam hati dan pikiran mencoba menguatkan sambil melihat langit berusaha supaya air matanta tak menetes. Sadis ya?!
Teman.. katanya teman, tapi tega menikung. Hello? It's me.. your stranger. Kok bisa ya? Mencoba ikhlas. Tapi tak semudah membali tempe di wajan. Sisi manusiawi mesti muncul. Entah itu sama-sama menyakiti atau tidak siapa yang tahu?! Hanya meluapkan emosi namun berusaha tetap tenang.. How does it feel, huh?
Teman.. would you remember the days we had a laugh together? Just say, Yes i remember and i love you.
Tomodachi ni aimasu.

#Komunitas ODOP Batch 6
3 September 2018  23:28 WIB

 

Roudlotul Maghfiroh Template by Ipietoon Cute Blog Design