Pernahkah kamu mengira bahwa apa yang kamu tulis bisa menumbuhkan emosional mereka? Katamu kamu tidak ingin membuat orang lain menyukaimu. Tapi tulisanmu melakukannya. Setiap Status yang ada di Sosial Mediamu membuat jutaan orang mengira bahwa kamu ingin memikat seseorang. Kamu tahu.. Aku salah satu orang yang mungkin terjebak di dalamnya. Aku mencoba menghapuskannya mencoba merelakan bahwa kamu tidak pernah ada perhatian untuk sekedar menyapa apalagi untuk menyenggol rasa. Kamu terlanjur menangkapku dengan kail berumpankan syair yang Kau tulis dan Aku terlanjur terkait di kailmu. Aku tidak menyangka bahwa hanya dengan kata, kamu mampu meruntuhkan angan dan inginku untuk mengenal sosok yang lain dari dirimu. Kamu tumbuh dalam hidupku sebagai candu dan racun. Menyita semua waktuku, perhatianku, dan ambisiku saat ini. Untaian kata yang kau susun. Siratan makna yang kau himpun dalam setiap baitnya, apik meruntuhkan semua yang sudah menjadi prosedur hidupku. Mengelak pun Aku tidak berdaya. Menerima kenyataan yang telah buat atasku, berat. Mengacau balaukan apapun yang ada dalam hidupku. Aku tahu ini bukan salahmu. Ini semua adalah salahku. Mengapa Aku memiliki hati yang terlalu perasa. Tapi apakah kamu tidak mau membantuku? Sekedar untuk mewujudkannya walau hanya sebentar. Merangkai untaian syair bersama. Bak kisah romansa di peradaban dahulu. Dua insan saling merindu dan melipur lara hanya dengan secarik kertas dan basahnya tinta yang menetes di setiap permukaannya melengkuk meliuk membentuk huruf per huruf,, menjadi kata menyambung, menyatu menjadi wakilan ungkapan dua insan yang merindu dengan sangat parah. Apa Kamu tidak mau melakukannya denganku? Setiap malam Aku menatap langit. Gelap.. semua gelap. Tapi ada satu cahaya yang tampak dibalik pantulan riak danau. Dibalik jendela rumah kayu yang begitu sederhana Aku melihatmu. Melihatmu menikmati malam hanya dengan sebatang lilin yang Kau bawa ke pinggir danau. Mengapa? Apa yang sebenarnya kamu lakukan? Kamu membawa botol kosong dan 5 gulung surat yang disimpul pita berwarna coklat keemasan. Kau lempar botol kosong tadi dengan surat-surat yang sudah Kau masukkan ke dalamnya. Ada apa? Siapa yang ingin Kau kirimi surat itu? Apa ini rutinitasmu? Atau ini yang membuat Kamu menjadi penyair sepi yang hanya mengharapkan sosok yang tidak ada di bumi ini. Mengabaikan yang jelas-jelas ada di sekitarmu. Mungkin mudah untuk tak mengagumi tulisanmu lagi. Tapi melenyapkan emosi yang sudah Kau ciptakan melalui bait-baitmu mungkin membutuhkan seumur hidupku.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6




0 komentar:
Posting Komentar