Senin, 17 September 2018

Menghidupkanmu Kembali dalam Kata

Bunda engkau masih yang terbaik dalam hidupku. Andaikan 2 tahun yang lalu aku bisa menyelesaikan lembar kisahmu dengan apik maka aku tidak perlu hidup dengan rasa rindu dan penyesalan yang bergejolak seperti ini. Engkau yang selalu aku cinta tanpa syarat. Namun aku menjadi seorang munafik. Mengatakan bahwa aku mencintaimu, tapi aku masih belum bisa memberikan kebahagiaan dalam kehidupanmu yang baru ini. Bun, aku sangat merindukanmu dalam setiap nafas yang kuambil dan dalam setiap langkah yang kutapaki di tanah rantau. Aku ingat betul bagaimana raut wajahmu yang dihiasi gelombang keriput nan cantik itu menampakkan ekspresi sedih namun tak berucap ketika harus berpisah denganku. Aku yang tidak pernah mau mendengarkan apa yang engkau sarankan untuk belajar di kampung halaman dengan alasan ingin mencari pengalaman, kini merasakan apa yang tidak akan pernah aku lupakan. Betapa mahalnya biaya yang harus kubayar hanya untuk menjemput sebuah kerinduan yang membunuh. Betapa sedikit dan cepatnya waktu itu berlalu ketika aku berada jauh dari kampung halaman. Bunda di tengah kekalutanku ini aku mencoba mengahdirkan sosokmu dalam syair yang kusimpan dalam booknote pribadiku. Berharap bahwa aku memang sedang berbicara denganmu bunda. Aku ingin bunda memelukku lagi dalam mimpi seperti dahulu, hingga aku bisa melepaskan air mata kebahagiaan bukan air mata kesedihan dan kerinduan yang tak berujung saja. Detik tiap detik kulalui dengan diriku yang semakin berubah. Terkadang aku merasa aku masih seperti diriku yang polos dan lugu namun kadangkala aku menjadi sosok iblis yang terbangun dari peristirahatan karena berbagai luka dan fitnahan yang luar biasa ini. Bunda jika saja ponselmu masih mau berdering dan menjawab telfonku, mungkin 1 hari 24 jam aku akan menjadi alasan ponselmu berdering. Sayangnya ponselmu tidak pernah merespon kita aku melakukan panggilan ke nomor pribadimu. Bunda aku sangat merindukanmu. Aku sangat bersusah payah dan benar-benar berusaha menghidupkanmu dalam kata karena engkaulah yang sangat memahamiku setelah Tuhanku. Engkau mampu menenangkan aku dari berbagai kejadian yang tidak pernah berpihak padaku dengan penuh pengertian hingga aku menyadari bahwa aku memang harus melalui tempaan yang hebat jika mau menjadi pedang perang panglima. Bunda menyesal mungkin yang kurasakan sekarang, namun aku tidak boleh berhenti dan kembali sia-sia. Aku masih membayangkan wajahmu dan ucapanmu yang menginginkanku kembali dengan gelar S.Pd beserta ilmu yang bermanfaat. Bunda teruslah hidup dalam kata-ku hingga aku tak perlu merasa sepi dan sedih. Bunda aku mencintaimu dari permukaan bumi untukmu yang berada di atas langit.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

15 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Halah bunda-bunda.
    Padahal nyeluk e emak se? 😁

    Kirim Al-Fatihah Vi 🤗

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa nggak ndukung gitu sekali-kali. Ngawur ae biarkan jadi rahasiaku dan bundaku lah.

      iyaa luut.

      Hapus
  3. Tentang emak lagi. Tak pernah habis cerita tentabg emak2 yg super.

    BalasHapus
  4. Aku paling ga bs kalo suruh nulis ttg bonyok... ga akan pernah cukup kata2nya... ga sanggup deh...

    BalasHapus
  5. tiap baca ataupun nulis sendiri tentang sosok ibu, pengennnya mewekk terharu

    www.innaistantina.com

    BalasHapus
  6. Entah kenapa kalau baca sosok ibu, buatku selalu haru...

    BalasHapus
  7. Hehe maaf yah kalau bikin baper, karena penulis lagi benar-benar merindukan sosok ibu. :)

    BalasHapus

 

Roudlotul Maghfiroh Template by Ipietoon Cute Blog Design