Embun pagi melambai di ujung daun muda. Ku buka mataku perlahan dan ku dapati sosok yang selalu aku impikan. Ku tatap setiap sudut kesempurnaan ciptaan Tuhanku ini. Belum habis bahagiaku menyandang gelar sebagi istrimu. Kebahagiaanku selalu bertambah ketika aku menyaksikan setiap perbuatanmu yang begitu memuliakan aku dan ibumu. Kau bimbing aku ke arah surgaNya, kau terangi jiwaku dengan petuahmu yang begitu bermakna, dan kau manjakan aku dengan semua perhatian dan pengorbananmu. Melimpah ruah kasih sayangmu atas diriku dan keluarga kecil kita ini. Hari demi hari kita lalui bersama dengan perasaan yang tiada henti melafalkan kalimat syukur. Setiap hal kecil nan romantis yang kau lakukan, bagiku masih seperti sebuah mimpi di siang hari. Berulang kali ku cubit pipiku hingga meninggalkan bekas merah, hanya untuk sebuah pembuktian bahwa aku tidak sedang bermimpi. Tiba-tiba kamu datang ke arahku menanyakan kenapa pipiku memiliki bekas lebam merah sembari memegang kedua pipiku dan menatap mataku dengan tajam. Sontak jantungku berdegup kencang. Mungkin aku bertingkah sedikit berlebihan secara kita sudah menjadi pasangan halal yang bisa saling memegang bagian tubuh pasangan dengan bebas. Tapi bagiku itu masih sebuah yang baru dan sangat menguji adrenalin karena kamu yang terindah selama aku men-jomlo menjadi milikku seorang. Dengan refleks aku menghempaskan tanganmu yang tertempel di kedua pipiku dan membuang wajahku. Bukan karena aku marah. Tapi karena aku benar-benar gugup dan paranoid ketika berada dalam situasi yang seperti ini. Ku lihat matamu dengan kepalaku yang sebentar-bentar masih menunduk-nunduk karena masih belum terbiasa menjadi istrimu, seseorang yang begitu sangat dekat denganmu. Kau terlihat tenang dan terkesan sangat memahami posisiku yang masih canggung menjadi istrimu untuk pertama kalinya. Kamu tersenyum dan meluncurkan tangan kananmu ke atas kepalaku. Mengelus kepalaku dengan lembut dan mengatakan, "Tidak apa-apa Krisan-ku yang manis dan paling anggun ini.. aku tahu ini menjadi sebuah hal yang baru dalam hidupmu. Aku akan selalu membimbingmu sebagai tulang rusukku dengan penuh kelembutan. Tidak perlu takut, karena akulah pelindung dan super heromu yang baru setelah ayahmu. Tetaplah berjuang untukku, untuk keluarga kita, dan tentunya untuk anak-anak kita nanti." Masyaallah wanita mana yang tidak melting mendengar ucapan lelakinya seperti itu. Lelaki yang sangat ia idam-idamkan dan hanya mampu memandangnya dari kejauhan dulu sekarang ada di hadapannya dan mengucapkan sesuatu yang meluluhkan hati seperti itu. Setelah ia mengelus kepalaku, dia melayangkan ciuman lembut ke keningku. Lagi-lagi jantungku dibuat berdegup tidak beraturan. Jika saja kau berteriak aku akan berteriak sekencang-kencangnya. Tapi karena serangan mendadak itu semua organ dan otakku tidak terkoneksi secara sempurna. Aku terpaku cukup lama, sedang ia sudah berlalu meninggalkan aku.
Hari ke-dua aku menjadi istrimu. Canggung itu mulai berkurang namun belum hilang total. Rasa malu-malu itu masih ada ketika kamu melakukan hal yang super sweet. Ku siapkan secangkir kopi susu yang menjadi minuman favoritmu di pagi hari. Belum beranjak aku dari tempat yang kugunakan meletakkan kopimu, lagi-lagi kamu membuat kejutan demi kejutan yang menghentikan aliran impuls neuron dari otak. Kamu datang dari arah belakangku tanpa bersuara dan memelukku dengan lembut dan erat. Berbisik dengan lembut, "Selamat pagi bunga krisanku, lain kali jangan lupa kecupan di kening saat bengun tidur ya?!" Oh iya aku melupakannya. Beliau memintaku ketika bangun tidur untuk mencium keningnya. Katanya untuk latihan mengurangi rasa canggung. Tapi kalau aku yang melakukannya mungkin akan bertambah canggung. Dengan terbata-bata aku menjawab, "Eh iya mas saya lupa tadi pagi.. maafkan saya mas. Apa boleh kalau saya lakukan sekarang untuk menebus kesalahan saya tadi?" beliau menjawab "Oh tentu, itu yang saya tunggu dan harapkan dari kamu, Krisanku." Belum sempat aku mencium kening beliau tiba-tiba terdengar suara yang memanggilku dari jauh, Via.. Aravia.. Aravia binti Syamsul. Astaghfirullah ternyata saya melamun di dalam kelas. Ah betapa malunya saya karena ketahuan melamun di dalam kelas ketika pelajaran tengah berlangsung.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6




Kerennnnya
BalasHapusMasih terus belajar gan, masih berpengalaman kamu. :)
Hapus